GAZA CITY — Pada pagi 5 Juni 1967, pesawat-pesawat tempur Israel lepas landas menuju Mesir dalam operasi yang kelak dikenal sebagai Operation Focus. Dalam waktu kurang dari tiga jam, hampir 90 persen angkatan udara Mesir hancur di landasan. Hari itu juga, pasukan darat Israel bergerak ke dua arah sekaligus: Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza. Enam hari kemudian, peta politik Palestina berubah untuk hampir enam dekade ke depan — dan efeknya masih membentuk kondisi Gaza hingga saat ini.
Perang ini disebut Israel sebagai Six-Day War. Bagi warga Palestina, peristiwa ini dikenang sebagai an-Naksa — “kemunduran” — untuk membedakannya dari an-Nakba 1948. Jika Nakba menandai lahirnya pengungsian massal pertama, Naksa menandai berakhirnya pemerintahan Arab atas seluruh wilayah bekas Mandat Inggris yang tersisa: Gaza di bawah Mesir dan Tepi Barat di bawah Yordania.
Gaza Sebelum Perang: Basis UNEF yang Ditarik Mundur
Sejak Perang Suez 1956, Jalur Gaza berada di bawah administrasi militer Mesir, dengan pasukan penjaga perdamaian PBB, United Nations Emergency Force (UNEF), ditempatkan di sepanjang perbatasan Gaza dan Sinai sejak 1957 untuk memisahkan Israel dan Mesir. Ketegangan regional meningkat tajam pada pertengahan Mei 1967 setelah Uni Soviet menyebarkan laporan — yang belakangan terbukti keliru — bahwa Israel sedang mengonsentrasikan pasukan di perbatasan Suriah.
Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser merespons dengan memobilisasi pasukan ke Sinai pada 14 Mei 1967. Empat hari kemudian, Mesir secara resmi meminta penarikan UNEF dari wilayahnya, termasuk Gaza. Sekretaris Jenderal PBB U Thant, setelah sempat berupaya menegosiasikan penarikan parsial, menyetujui permintaan itu pada 18–19 Mei. Pasukan UNEF yang berbasis di Gaza — sekitar 3.400–3.500 personel — mulai ditarik keluar dalam hitungan hari.
Pada 22–23 Mei, Nasser mengumumkan penutupan Selat Tiran bagi kapal-kapal Israel, langkah yang oleh Israel dianggap sebagai tindakan perang. Pada 30 Mei, Raja Hussein dari Yordania menandatangani pakta pertahanan bersama dengan Mesir di Kairo, menempatkan pasukan Yordania di bawah komando Mesir. Rangkaian langkah ini — penarikan UNEF, blokade Tiran, dan aliansi militer Arab — menjadi latar langsung pecahnya perang dua minggu kemudian.
5–6 Juni: Gaza Jatuh dalam Dua Hari
Serangan udara Israel pada pagi 5 Juni melumpuhkan kekuatan udara Mesir hampir seketika, memberi Israel superioritas udara penuh atas kawasan sejak hari pertama. Bersamaan dengan itu, unit lapis baja dan infanteri Israel menyeberangi perbatasan menuju Sinai dan Jalur Gaza.
Pertempuran di front Gaza berlangsung singkat dibanding front-front lain. Menurut arsip foto Britannica, unit lapis baja Israel telah memasuki Kota Gaza pada 6 Juni 1967 — hanya satu hari setelah perang dimulai. Pertahanan Mesir di Sinai bagian utara, termasuk garnisun di sekitar Rafah dan Khan Yunis, tidak mampu bertahan menghadapi kombinasi serangan udara dan gerak cepat lapis baja Israel.
Perlu dicatat: dokumentasi rinci mengenai jalannya pertempuran di dalam kota-kota Jalur Gaza sendiri — jumlah korban militer dan sipil di Gaza City, Khan Yunis, Rafah, dan Deir al-Balah pada 5–6 Juni — tidak tersedia secara memadai dalam sumber-sumber berbahasa Inggris yang dapat diverifikasi untuk artikel ini. Sebagian besar catatan sejarah perang ini berfokus pada front Sinai, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan, sementara front Gaza — yang jatuh lebih cepat — mendapat perhatian historiografis yang jauh lebih sedikit. Klaim angka korban spesifik untuk Gaza pada masa ini tidak dicantumkan karena tidak dapat diverifikasi silang.
Pada 8 Juni, pasukan Mesir di seluruh front barat daya telah dikalahkan, dan Israel menguasai Gaza serta Sinai hingga Terusan Suez. Perang berakhir dengan gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 10 Juni.
Pengungsian dan Naksa di Jalur Gaza
Sebelum 1967, Jalur Gaza sudah menampung ratusan ribu pengungsi Palestina dari perang 1948 yang tinggal di delapan kamp UNRWA. Perang 1967 menambah gelombang pengungsian baru. Menurut ensiklopedia Palquest, sekitar 45.000 warga meninggalkan Jalur Gaza selama dan setelah perang, sebagian besar menuju Tepi Timur Sungai Yordan. Sekitar 13.000 warga Gaza yang kebetulan berada di luar wilayah saat perang pecah tidak diizinkan kembali.
Secara keseluruhan, di seluruh wilayah yang diduduki Israel pada 1967 — Tepi Barat dan Gaza — diperkirakan 300.000 hingga 360.000 warga Palestina terusir dari rumah mereka, menurut berbagai perkiraan yang dikutip organisasi advokasi Palestina dan lembaga think tank Israel. Tanggal 5 Juni kini diperingati warga Palestina sebagai Hari Naksa, mengenang pengungsian massal tersebut.
Sejarawan Israel Tom Segev mencatat bahwa banyak pejabat Israel sendiri terkejut dengan skala kemiskinan dan kepadatan penduduk yang mereka temukan di kamp-kamp pengungsi Gaza begitu wilayah itu diduduki, memicu perdebatan internal tentang tanggung jawab moral Israel terhadap nasib pengungsi — perdebatan yang pada akhirnya tidak mengubah kebijakan penolakan hak kembali.
Dari Pendudukan Militer ke Aneksasi yang Dipertimbangkan
Setelah perang, Israel mendirikan sistem pemerintahan militer — Israeli Military Governorate — untuk mengelola populasi sipil di Gaza, Tepi Barat, Sinai, dan bagian barat Dataran Tinggi Golan. Di Gaza, langkah-langkah awal pemerintahan militer mencakup jam malam, interogasi, penahanan, dan pembongkaran rumah, yang menurut Palquest terutama menyasar penghuni kamp pengungsi.
Di internal pemerintahan Israel, opsi kebijakan terhadap Gaza sempat diperdebatkan serius. Menurut dokumentasi Jewish Virtual Library, pada 19 Juni 1967 kabinet Israel secara rahasia memutuskan untuk menukar Sinai dan Golan dengan perjanjian damai dengan Mesir dan Suriah, tetapi tidak mencapai konsensus soal Tepi Barat — sementara kabinet sepakat untuk mencaplok Gaza ke dalam Israel dan memindahkan sebagian pengungsi ke wilayah lain. Keputusan itu tidak pernah dijalankan secara resmi karena kompleksitas politik dan demografis, dan Gaza tetap berada di bawah pendudukan militer, bukan aneksasi formal — berbeda dari Yerusalem Timur dan Dataran Tinggi Golan yang kemudian dicaplok Israel.
Dunia Arab merespons kekalahan itu dengan Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab di Khartoum, Agustus 1967, yang menghasilkan deklarasi “tiga tidak”: tidak ada perdamaian, tidak ada negosiasi, tidak ada pengakuan terhadap Israel. Pada 22 November 1967, Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 242, yang menyerukan penarikan Israel dari wilayah yang diduduki dalam perang — sebuah resolusi yang perumusannya sendiri menjadi sumber sengketa hukum selama puluhan tahun berikutnya.
Warisan 1967 bagi Gaza Hari Ini
Pendudukan militer Israel atas Jalur Gaza yang dimulai 6 Juni 1967 berlangsung hampir 38 tahun, hingga penarikan pemukim dan pasukan Israel pada 2005 — topik yang akan dibahas dalam artikel kolom sejarah berikutnya. Namun penarikan itu tidak mengakhiri kendali Israel atas perbatasan, wilayah udara, dan wilayah laut Gaza, yang berlanjut melalui blokade sejak 2007.
Kamp-kamp pengungsi yang terbentuk sejak 1948 dan bertambah penghuninya sejak 1967 — Jabaliya, Khan Yunis, Rafah, Nuseirat, Deir al-Balah, Bureij, Maghazi, dan Shati — tetap menjadi pusat demografi Gaza hingga perang yang berlangsung sejak Oktober 2023. Garis waktu dari Naksa 1967 ke kondisi Gaza pada 2026 — dengan lebih dari 1,9 juta dari 2,4 juta penduduk terusir dan mayoritas bangunan rusak atau hancur — menunjukkan bahwa persoalan pengungsian yang bermula pada dua perang besar abad ke-20 belum menemukan penyelesaian.


