Telaah atas paradoks paling memilukan di zaman kita — ketika setiap kekejaman terdokumentasi, tersebar, dan ditonton jutaan orang, namun kesaksian itu tak kunjung berubah menjadi keadilan
Malam 10 Agustus 2025, sekitar pukul 23.22, di sebuah tenda jurnalis dekat gerbang utama Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza. Anas al-Sharif, koresponden berusia 28 tahun dari kamp pengungsi Jabalia, baru saja meliput sebuah serangan dari area resepsi rumah sakit. Sebuah rudal dari drone rezim Zionis menghantam tenda itu, menewaskan tujuh orang: al-Sharif, empat rekan jurnalisnya, dan dua orang lain termasuk keponakannya. Namun sebelum gugur, ia telah menyiapkan satu pesan — wasiat yang ia titipkan untuk diunggah ke akun media sosialnya jika ia terbunuh. Pesan itu dibuka dengan kalimat yang kini menggema melampaui batas Gaza: jika kata-kata ini sampai kepadamu, ketahuilah bahwa rezim Zionis telah berhasil membunuhku dan membungkam suaraku.
Wasiat Anas al-Sharif menyebar ke seluruh dunia dalam hitungan jam. Diterjemahkan ke puluhan bahasa, dibagikan jutaan kali, ditangisi orang-orang yang tak pernah menjejakkan kaki di Palestina. Inilah wajah baru kesaksian di abad ke-21: seorang syuhada berbicara kepada dunia dari balik kematiannya sendiri, melalui layar telepon genggam kita.
Tetapi di sinilah letak paradoks yang harus kita hadapi dengan jujur. Gaza adalah genosida paling terdokumentasi dalam sejarah umat manusia. Tidak ada pembantaian masa lalu yang begitu terekam, begitu tersiar, begitu disaksikan secara langsung dan masif seperti ini. Dan justru di tengah banjir kesaksian itu, dunia — para pemimpinnya, lembaga-lembaganya, mekanisme hukumnya — sebagian besar tetap diam. Pertanyaan inti tulisan ini sederhana namun mengganggu: apa gunanya menyaksikan, jika menyaksikan tidak mengubah apa-apa?
Saksi yang Dibunuh karena Bersaksi
Untuk memahami betapa luar biasanya dokumentasi Gaza, kita harus memahami harga yang dibayar untuk menghasilkannya. Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mencatat bahwa tahun 2025 adalah tahun paling mematikan bagi pers dalam sejarah pencatatan mereka selama lebih dari tiga dekade: 129 jurnalis tewas di seluruh dunia, dua pertiganya akibat tindakan rezim Zionis. Dari 86 anggota pers yang gugur oleh tembakan Israel sepanjang tahun itu, lebih dari 60 persen adalah warga Palestina yang meliput dari Gaza.
Angkanya terus bertambah. Per awal Juni 2026, CPJ mendokumentasikan setidaknya 262 jurnalis dan pekerja media yang gugur sejak perang dimulai — angka ini mencakup Gaza, Lebanon, Yaman, Israel, dan Iran. Khusus di Gaza, hingga akhir April 2026, CPJ menilai setidaknya 207 jurnalis dan pekerja media Palestina telah tewas, dengan bukti bahwa sedikitnya 32 di antaranya dibidik secara sengaja sebagai pembalasan atas pekerjaan mereka. Federasi Jurnalis Internasional dan PBB mencatat ratusan nama serupa. Yang membedakan kasus Gaza dari medan perang lain bukan sekadar jumlahnya, melainkan pola pembunuhan terarah — para reporter dibidik justru karena pekerjaan mereka. CPJ menyebut Israel bertanggung jawab atas mayoritas pembunuhan jurnalis yang dikategorikan sebagai pembunuhan terencana sepanjang 2025.
Mereka tidak hanya berusaha menutup mata dunia. Mereka membunuh mata itu satu per satu.
Yang lebih memilukan, banyak dari para syuhada pers ini tahu mereka sedang diburu. Anas al-Sharif sendiri telah berbulan-bulan dituduh rezim Zionis sebagai anggota Hamas — tuduhan yang dibantah keras oleh Al Jazeera dan dinilai Reporters Without Borders penuh kejanggalan, termasuk klaim absurd bahwa seorang jurnalis menerima pangkat militer pada usia sepuluh tahun. CPJ bahkan telah memperingatkan bahwa nyawa al-Sharif dalam bahaya akut hanya beberapa hari sebelum ia gugur. Mereka tetap meliput, karena tahu: jika mereka berhenti, dunia akan benar-benar buta.
Pola tuduhan ini sendiri adalah bagian dari strategi. Dengan melabeli jurnalis sebagai militan tanpa bukti yang bisa diverifikasi, rezim Zionis berupaya menggeser kategori korban dari “pekerja pers yang dilindungi hukum internasional” menjadi “sasaran militer yang sah”. Jika label itu diterima, pembunuhan berubah menjadi operasi; jika ditolak, ia tetap kejahatan perang. Inilah pertempuran kedua yang dihadapi para jurnalis Gaza — bukan hanya bertahan hidup di bawah bom, tetapi juga mempertahankan kebenaran identitas mereka sebagai saksi, bukan kombatan. Bahkan setelah gencatan senjata Oktober 2025, CPJ mencatat pembunuhan terhadap anggota pers masih berlanjut, membuktikan bahwa ancaman terhadap para saksi tidak pernah benar-benar reda.
Kamera di Tangan Setiap Warga
Inilah perbedaan fundamental Gaza dari semua genosida sebelumnya. Holocaust baru terungkap penuh setelah kamp-kamp dibebaskan. Pembantaian Rwanda berlangsung sebagian besar di luar sorotan kamera dunia. Srebrenica baru dipahami skalanya bertahun-tahun kemudian. Namun Gaza disiarkan langsung, hampir tanpa jeda, oleh ribuan tangan: jurnalis profesional, dokter yang merekam dari ruang gawat darurat, ayah yang memfilmkan reruntuhan rumahnya, anak-anak yang berbicara ke kamera ponsel.
Dengan jurnalis asing sebagian besar dilarang masuk Gaza tanpa pengawalan militer rezim Zionis, beban kesaksian jatuh sepenuhnya ke pundak warga Palestina sendiri. Mereka menjadi mata dunia. Setiap unggahan, setiap siaran langsung, setiap foto yang diunggah sebelum sinyal terputus adalah tindakan perlawanan — sekaligus tindakan yang bisa berujung kematian. Tidak pernah dalam sejarah, korban sebuah kekejaman begitu mampu, dan begitu gigih, mendokumentasikan penghapusan mereka sendiri secara real-time.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah bangsa menulis catatan kematiannya sendiri — sambil masih hidup, sambil masih berharap dunia membaca.
Implikasi historisnya besar. Selama ini, narasi kekejaman hampir selalu ditulis belakangan, oleh para penyintas, sejarawan, atau bahkan para pelaku yang mengendalikan arsip. Korban jarang memegang pena. Gaza membalik logika itu. Para syuhada pers dan warga biasa merebut hak untuk menarasikan nasib mereka sendiri, secara langsung, tanpa perantara. Mereka menolak menjadi objek bisu dalam catatan orang lain; mereka menjadi subjek yang berbicara. Inilah revolusi sunyi dalam sejarah kesaksian — dan rezim Zionis tampaknya memahami betul ancaman dari pergeseran ini, sebab itulah para pembawa kamera dibidik secara sistematis.
Paradoks Generasi Layar
Lalu mengapa dunia tetap diam? Di sinilah analisis ini menyentuh inti yang tidak nyaman. Kita — terutama generasi muda yang hidup di media sosial — menyaksikan lebih banyak penderitaan Gaza daripada generasi mana pun sebelumnya menyaksikan kekejaman apa pun. Namun ada jurang antara menyaksikan dan bertindak, antara empati dan keadilan.
Sebagian penjelasannya bersifat psikologis. Para ahli menyebutnya kelelahan welas asih (compassion fatigue) — ketika paparan terus-menerus terhadap penderitaan justru menumpulkan respons emosional kita. Algoritma media sosial memperburuknya: video seorang anak Palestina yang kehilangan kakinya muncul di antara iklan, meme, dan video tarian, lalu hilang dalam gulir berikutnya. Penderitaan direduksi menjadi konten, dan konten dirancang untuk dikonsumsi lalu dilupakan.
Sebagian lagi bersifat struktural. Kesaksian tidak otomatis menjadi akuntabilitas. Meskipun komisi independen PBB dan kelompok-kelompok HAM terkemuka telah menyepakati bahwa yang terjadi di Gaza adalah genosida, mekanisme penegakan hukum internasional tersandera oleh kepentingan geopolitik para pelindung rezim Zionis. CPJ mencatat fakta yang telanjang: hingga kini tidak ada satu pun pihak yang dimintai pertanggungjawaban atas pembunuhan terarah terhadap jurnalis sejak Oktober 2023. Impunitas adalah pesan yang dikirim ke setiap pelaku: silakan, dunia menonton, tapi dunia tidak akan menghukum.
Ada pula dimensi yang jarang dibicarakan: peran platform digital itu sendiri. CPJ, dalam dokumentasinya hingga April 2026, mencatat adanya langkah-langkah sensor yang memengaruhi media lokal maupun asing dalam pemberitaan Gaza. Di luar itu, banyak pengguna melaporkan unggahan dari Gaza yang jangkauannya menyusut, ditandai sebagai konten sensitif, atau dihapus dengan dalih melanggar pedoman komunitas — sementara konten yang menihilkan penderitaan Palestina kerap dibiarkan beredar. Kesaksian yang berhasil direkam dengan taruhan nyawa masih harus berhadapan dengan tembok algoritma dan kebijakan moderasi yang tidak selalu netral. Maka perjuangan untuk membuat dunia melihat tidak berakhir saat tombol rekam ditekan; ia berlanjut dalam pertarungan atas siapa yang mengendalikan visibilitas di ruang digital.
Menonton tanpa bertindak bukanlah kenetralan. Ia adalah bentuk persetujuan yang paling sunyi.
Cermin bagi Generasi Muda Indonesia
Bagi kita di Indonesia, paradoks ini punya gema yang khas. Kita adalah salah satu negara dengan populasi pengguna media sosial terbesar di dunia, dan solidaritas terhadap Palestina sudah lama mengakar dalam kesadaran kolektif bangsa ini — dari sikap Bung Hatta dan Mohammad Natsir yang menolak mengakui pendudukan, hingga aksi-aksi jalanan masa kini yang dipadati anak-anak muda. Linimasa kita penuh dengan Gaza. Tetapi penuhnya linimasa tidak otomatis berarti penuhnya tindakan.
Justru di sinilah generasi muda Indonesia diuji. Mudah sekali mengganti foto profil, membagikan satu unggahan, lalu merasa tugas telah tunai. Aktivisme yang berhenti di layar — kadang disebut slacktivism — memberi kita rasa puas moral tanpa biaya nyata. Padahal yang dibutuhkan rakyat Gaza bukan sekadar simpati yang viral sehari, melainkan tekanan yang konsisten dan dukungan material yang nyata. Pertanyaan untuk kita bukanlah seberapa banyak kita membagikan, melainkan seberapa dalam kita terlibat.
Wiji Thukul pernah menulis bahwa hanya ada satu kata: lawan. Bagi generasi layar, melawan berarti menolak membiarkan algoritma menentukan kapan kita peduli dan kapan kita lupa. Ia berarti merawat ingatan ketika dunia digital dirancang untuk membuat kita terus menggulir ke hal berikutnya.
Bukan Sekadar Angka, Tapi Nama
Justru karena ada bahaya penderitaan tereduksi menjadi statistik, dokumentasi warga Gaza melawan dengan cara yang tak terduga: ia mengembalikan nama dan wajah. Kita tidak hanya tahu bahwa ratusan jurnalis gugur; kita tahu Anas al-Sharif meninggalkan istri bernama Bayan dan dua anak, putrinya Sham dan putranya Salah. Kita tahu impiannya yang sederhana: pulang ke kampung halaman keluarganya di Asqalan yang kini berada di bawah pendudukan.
Dalam wasiatnya, al-Sharif tidak meminta balas dendam. Ia menitipkan keluarganya, dan ia menitipkan satu pesan kepada kita semua: jangan lupakan Gaza, dan jangan lupakan aku dalam doa-doa kalian. Inilah kekuatan dokumentasi yang sesungguhnya. Ia mengubah dua juta angka menjadi dua juta kisah. Dan selama kisah-kisah itu hidup, penghapusan yang diinginkan para pelaku tidak akan pernah tuntas. Memori adalah bentuk perlawanan terakhir yang tak bisa dibom.
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
Sebagai generasi yang memegang layar, kita memikul tanggung jawab khusus yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Kesaksian sudah ada di genggaman kita; pertanyaannya adalah apa yang kita lakukan dengannya. Ada tiga hal konkret yang bisa kita mulai hari ini:
- Ubah menonton pasif menjadi amplifikasi yang bertanggung jawab. Bagikan kesaksian dari sumber yang terverifikasi — jurnalis Palestina, lembaga seperti CPJ, IFJ, dan Al Jazeera — bukan kabar yang belum jelas asalnya. Disinformasi, sekalipun bermaksud baik, justru memberi amunisi bagi mereka yang ingin menihilkan fakta. Verifikasi sebelum membagikan adalah bentuk penghormatan kepada para syuhada yang mati demi kebenaran.
- Lawan kelelahan welas asih dengan keterlibatan yang berkelanjutan. Empati sesaat mudah; komitmen jangka panjang sulit. Jadikan solidaritas Palestina bukan tren yang datang dan pergi mengikuti algoritma, melainkan kesadaran yang terus dirawat. Dukung lembaga kemanusiaan terpercaya seperti INH, MER-C, Sahabat Al-Aqsha, dan Adara Foundation, serta salurkan zakat-infak melalui BAZNAS, Dompet Dhuafa, atau Rumah Zakat.
- Dorong kesaksian menjadi akuntabilitas. Dukung kerja-kerja dokumentasi dan advokasi hukum yang berupaya mengubah bukti menjadi keadilan. Organisasi seperti Amnesty Indonesia dan akademisi hukum internasional seperti Hikmahanto Juwana terus mendesak pertanggungjawaban di forum internasional. Suara kolektif yang terorganisir jauh lebih kuat daripada simpati yang terpencar.
Layar yang Tak Boleh Digelapkan
Suatu hari nanti, ketika sejarah zaman ini ditulis, generasi mendatang akan bertanya kepada kita satu pertanyaan yang sama seperti yang kita ajukan kepada generasi yang menyaksikan kekejaman masa lalu: kalian tahu, kalian melihat — lalu apa yang kalian lakukan? Bedanya, alasan ketidaktahuan tidak tersedia bagi kita. Kita tidak bisa berkata kami tidak tahu. Setiap kekejaman ada di linimasa kita.
Anas al-Sharif dan ratusan rekannya memilih untuk tidak memalingkan kamera, bahkan ketika kamera itu menjadi sasaran. Mereka percaya bahwa kesaksian penting — bahwa jika dunia hanya bisa melihat, dunia akhirnya akan bertindak. Pertaruhan terbesar mereka adalah pada kemanusiaan kita. Mereka membayar pertaruhan itu dengan nyawa.
Kini tanggung jawab itu berpindah ke tangan kita yang masih hidup, yang masih bebas, yang masih bisa menonton tanpa risiko terbunuh. Para syuhada pers Gaza telah menyelesaikan tugas mereka: mereka membuat kita tidak mungkin lagi berpura-pura buta. Tugas kita baru saja dimulai.
Maka pertanyaannya bukan lagi apakah kita melihat. Kita melihat. Pertanyaannya adalah: setelah semua yang telah kita saksikan, setelah semua wasiat yang sampai ke layar kita, apa yang akan kita pertanggungjawabkan ketika anak-anak kita kelak bertanya di mana kita saat Gaza disiarkan langsung? (IW)
Sumber: Data korban jurnalis berdasarkan laporan Committee to Protect Journalists (CPJ) “Record 129 press members killed in 2025” (25 Februari 2026), pemutakhiran lintas-kawasan per 2 Juni 2026 (sedikitnya 262 jurnalis), serta dokumentasi khusus Gaza per 25 April 2026 (sedikitnya 207 jurnalis Palestina, 32 di antaranya dibidik secara sengaja); International Federation of Journalists (IFJ) dan Palestinian Journalists Syndicate (9 April 2026); serta verifikasi PBB. Wasiat dan kronologi gugurnya Anas al-Sharif (10 Agustus 2025, tujuh korban) berdasarkan laporan Al Jazeera, CPJ, Time, dan openDemocracy. Penilaian “genosida” merujuk pada konsensus komisi independen PBB dan organisasi HAM sebagaimana dikutip CPJ. Penilaian mengenai impunitas, tuduhan terhadap jurnalis, dan langkah sensor dirujuk dari CPJ dan Reporters Without Borders.
Tulisan ini didedikasikan untuk Anas al-Sharif dan lebih dari 200 syuhada pers Palestina di Gaza yang mati agar dunia tidak bisa berkata “kami tidak tahu” — dan untuk setiap layar yang menolak digelapkan.
