Di sebuah tenda darurat di antara reruntuhan rumah mereka di Jalur Gaza, suami-istri Adnan Abu Foul dan Um Ibrahim duduk berdampingan menatap layar telepon genggam kecil yang masih bisa menangkap sinyal. Di layar itu, dalam siaran langsung yang dipancarkan dari Makkah, jutaan jemaah haji dari seluruh dunia mengalir mengelilingi Ka’bah dalam prosesi tawaf. Mereka menangis. Bukan karena terharu seperti jemaah di pelataran Masjid al-Haram. Mereka menangis karena seharusnya mereka ada di sana — dan untuk tiga musim haji berturut-turut, mereka telah dirampas dari hak menunaikan rukun Islam kelima itu oleh penutupan satu pintu gerbang bernama Rafah.
Mereka tidak sendiri. Lebih dari sepuluh ribu warga Jalur Gaza telah secara paksa dihalangi menunaikan ibadah haji selama tiga musim berturut-turut sejak 2024 hingga 2026, menurut data Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina. Tetapi yang paling memilukan dari laporan Kementerian itu adalah satu angka yang jarang muncul di siaran berita arus utama: sejak sistem undian haji modern diluncurkan pada Maret 2013, sebanyak tujuh puluh satu calon jemaah yang sudah sah memenangkan undian dan menanti bertahun-tahun di daftar tunggu telah menjadi syuhada selama periode perang — sebagian akibat serangan udara langsung, sebagian wafat secara alamiah karena usia dan penyakit — sebelum mereka sempat sekali pun menatap Ka’bah.
Tujuh puluh satu nama yang tidak akan disebut dalam siaran pers militer rezim Zionis. Tujuh puluh satu cita-cita spiritual yang dipendam sepanjang hidup, dimenangkan dalam undian, dipersiapkan dengan deposit ekonomi yang dikumpulkan selama puluhan tahun, dan akhirnya hangus tanpa sempat dijalankan. Inilah yang oleh peneliti Khaled Abu Amer dalam studinya yang diterbitkan Palestinian Center for Political Studies pada Mei 2026 disebut sebagai “genosida ekonomi struktural.” Tetapi sebenarnya, frasa itu tidak sepenuhnya tepat. Yang sedang terjadi di Rafah bukan hanya genosida ekonomi. Ia juga genosida spiritual.
Anatomi Pintu yang Dikunci
Untuk memahami mengapa lansia Gaza tidak bisa pergi haji selama tiga tahun, kita harus memahami satu kenyataan geografis yang jarang dijelaskan dengan jujur di media Indonesia. Jalur Gaza tidak memiliki bandara internasional yang berfungsi. Bandara Yasser Arafat di Rafah dihancurkan oleh rezim Zionis pada Desember 2001 dan tidak pernah dibangun kembali. Pelabuhan laut Gaza diblokade angkatan laut rezim Zionis. Perbatasan Erez di utara dikendalikan langsung oleh rezim Zionis dan praktis tertutup bagi mobilitas sipil sejak Oktober 2023.
Yang tersisa hanya satu pintu: Penyeberangan Rafah, garis perbatasan darat sepanjang sekitar tiga belas kilometer antara Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai di Mesir. Untuk dua juta penduduk Gaza, ini bukan sekadar perbatasan. Ini adalah satu-satunya saluran ke dunia luar yang tidak melewati teritori rezim Zionis. Selama dekade-dekade sebelum perang, calon jemaah haji Gaza menempuh perjalanan darat melalui Rafah ke Semenanjung Sinai, naik bus terkoordinasi ke Bandara Internasional Kairo, lalu terbang ke Jeddah atau Madinah. Perjalanan yang panjang dan melelahkan, tetapi dapat dilakukan.
Pada Mei 2024, militer rezim Zionis melancarkan invasi darat ke Kegubernuran Rafah. Sisi Palestina dari Penyeberangan Rafah dikuasai, dihancurkan secara fisik, dan ditutup. Sejak hari itu, dua juta warga Gaza secara efektif berada dalam pengepungan total. Bahkan setelah gencatan senjata parsial yang mulai berlaku pada Oktober tahun yang sama, militer rezim Zionis mempertahankan kontrol penuh atas area antara penyeberangan dan pemukiman sipil. Berdasarkan laporan Kantor Media Pemerintah Gaza yang dirilis awal 2026, ketika Rafah sempat dibuka sporadis, kuota harian dipatok hanya pada angka seratus lima puluh orang keluar dan lima puluh masuk — dan slot yang sangat terbatas itu didedikasikan hampir sepenuhnya untuk evakuasi medis darurat yang dikoordinasikan WHO dan Bulan Sabit Merah Palestina.
“Pintu spiritual rakyat Palestina ke Ka’bah saat ini dikunci bukan oleh hukum agama, bukan oleh hambatan teknis, bukan oleh perselisihan teologis antar mazhab. Ia dikunci oleh tank Merkava dan kawat berduri yang dikendalikan oleh sebuah rezim yang sama sekali tidak peduli pada rukun Islam mana pun.”
Hanan, Kamelia, dan Tas Ihram yang Tidak Pernah Dibuka
Statistik adalah satu hal. Wajah-wajah di belakangnya adalah hal yang sama sekali berbeda.
Hanan al-Hams, perempuan berusia enam puluh lima tahun, adalah salah satu dari tiga ribu calon jemaah Gaza yang sudah dijadwalkan berangkat haji pada 2024. Bertahun-tahun ia memasukkan namanya ke dalam undian. Bertahun-tahun ia menabung. Ketika namanya akhirnya terpilih, perang meletus. Putranya menjadi syuhada. Rumahnya hancur. Pada awal 2026, dalam wawancara dengan Al Jazeera, ia duduk di dalam tenda darurat yang ditegakkan di atas reruntuhan rumahnya di Gaza utara dan berbicara pelan.
“Saya kehilangan putra saya. Rumah saya dihancurkan. Dan sekarang saya dirampas dari perjalanan yang sudah saya tunggu berpuluh tahun.”
Kamelia al-Shafea menyimpan tas dan pakaian ihram milik ayahnya yang sudah menjadi syuhada di rak tenda pengungsiannya. Tas itu sudah dipersiapkan untuk perjalanan ke Makkah — nama ayah Kamelia sudah terpilih dalam undian haji — ketika rudal rezim Zionis menghantam beberapa minggu sebelum keberangkatan. Kamelia menolak memindahkan tas itu. Bagi keluarganya, tas ihram yang tidak pernah dibuka adalah monumen kecil terhadap hak beribadah yang dirampas. Bagi siapa pun yang pernah melihat persiapan haji dalam keluarga Muslim Indonesia — koper yang dirapikan dengan hati-hati, kain ihram yang disetrika rapi, sajadah yang dibungkus plastik — gambar itu membawa pukulan yang sangat khusus. Ada budaya yang sama, persiapan yang sama, doa yang sama. Hanya saja, di Gaza, koper itu tidak pernah diangkat ke pundak menuju Ka’bah.
Pada Juni 2024, di Gaza utara, perempuan tujuh puluh lima tahun bernama Amna Abu Mutlaq berbicara dengan jurnalis Al Jazeera dengan kalimat yang sangat sederhana: “Kami dirampas haji karena penutupan perbatasan dan karena perang dan kehancuran. Kami tidak bisa pergi. Setiap kali kami coba pergi, mereka bilang perbatasan ditutup. Mereka merampas segala sesuatu dari kami.” Pada bulan yang sama, lelaki bernama Al Kahlout berbicara dengan The National di Gaza. Ia sudah lebih dari dua puluh tahun memasukkan namanya ke undian haji. Pada 2024, untuk tahun kedua berturut-turut, namanya terpilih. Dan untuk tahun kedua berturut-turut, perang merampasnya. “Mimpi saya adalah menunaikan haji selagi saya masih cukup sehat menikmatinya,” katanya. “Kini saya hanya bertanya pada diri sendiri — apakah istri saya dan saya masih cukup hidup untuk menjalaninya?”
Tujuh puluh satu yang tewas. Sepuluh ribu yang dirampas. Dua juta yang dipenjara. Dan di tengah semuanya, satu pertanyaan tunggal yang dilontarkan Al Kahlout: apakah saya masih cukup hidup?
Mengapa Bukan Hanya Genosida Ekonomi
Studi Khaled Abu Amer untuk Palestinian Center for Political Studies pada Mei 2026 mendokumentasikan dengan teliti dimensi material dari kerusakan ini. Sebelum perang, sektor haji dan umrah Gaza menyuntikkan setidaknya dua belas juta dolar setiap tahunnya ke ekonomi lokal, mendukung mata pencaharian lebih dari seribu lima ratus pekerja. Hari ini, tujuh puluh delapan perusahaan perjalanan haji dan umrah berlisensi telah kolaps total. Lebih dari empat juta dolar modal infrastruktur menguap. Antara dua hingga tiga juta dolar dana talangan tertahan di lembaga keuangan Arab Saudi dan Mesir, dibekukan tanpa kepastian.
Abu Amer menyebutnya “genosida ekonomi struktural”. Ia berargumen bahwa penghancuran sektoral yang disengaja ini merupakan hukuman kolektif yang dilarang Konvensi Jenewa Keempat. Argumen itu kuat dan harus diteruskan. Tetapi konsep itu tidak menangkap seluruh kerusakan. Karena yang dihancurkan oleh penutupan Rafah bukan hanya tujuh puluh delapan perusahaan dan seribu lima ratus pekerja. Yang dihancurkan adalah relasi spiritual ribuan lansia Muslim dengan Tuhan mereka pada titik puncak ibadah mereka.
Bagi siapa pun yang dibesarkan dalam tradisi Islam, haji bukan sekadar perjalanan turis. Ia adalah perjumpaan yang dipersiapkan selama dekade. Ia adalah momen di mana seorang Muslim, sekali dalam hidupnya jika mampu, berdiri di Padang Arafah memohon ampun. Ia adalah momen di mana seorang lansia menatap Ka’bah dengan mata yang sudah dua puluh tahun memimpikan momen itu. Merampas momen itu — dengan tank, dengan kawat berduri, dengan rudal yang menghancurkan rumah calon jemaah — adalah kerusakan yang melampaui dimensi ekonomi. Ia menyentuh dimensi yang paling intim dari kemanusiaan: hubungan seorang manusia dengan Penciptanya pada momen yang paling sakral.
Inilah mengapa frasa “genosida spiritual” bukan hiperbola. Ia adalah deskripsi yang akurat tentang sebuah operasi yang sistematis untuk merampas, melalui blokade militer, hak fundamental beribadah dari sebuah populasi sipil. Genosida ekonomi menghancurkan perusahaan. Genosida spiritual menghancurkan harapan terakhir seorang lansia berusia delapan puluh tahun yang sudah dua dekade menabung untuk satu hal saja: berdiri di hadapan Ka’bah sebelum ia menutup mata.
Diplomasi Saudi yang Mentok di Tank Asing
Yang menjadikan tragedi ini lebih perih adalah perbandingannya dengan dua teater konflik lain di kawasan.
Di Republik Arab Suriah, selama lebih dari satu dekade sejak 2013, Kerajaan Arab Saudi memutus kerjasama haji dengan rezim Bashar al-Assad sebagai bentuk hukuman diplomatik. Tetapi pada 2024, ketika Saudi memulihkan hubungan diplomatik dengan Damaskus dan Suriah kembali ke Liga Arab, ruang udara terbuka, mandat operasional dikembalikan ke Kementerian Wakaf Suriah, dan penerbangan haji langsung dari Damaskus ke Makkah dilanjutkan untuk pertama kalinya dalam belasan tahun. Di Republik Yaman, sejak 2016, blokade udara koalisi Saudi melumpuhkan Bandara Internasional Sanaa yang dikuasai Houthi. Tetapi pada 2024, setelah inisiatif gencatan senjata PBB dan pemulihan hubungan Saudi-Iran, penerbangan haji pertama dalam tujuh tahun — membawa dua ratus tujuh puluh tujuh jemaah — lepas landas dari Sanaa langsung ke Jeddah.
Dua kasus. Dua konflik berdarah. Dua isolasi panjang. Dan dalam kedua kasus, ketika kalkulasi diplomatik Riyadh berubah, keran perizinan haji dibuka seketika. Di Damaskus, Saudi punya tuas. Di Sanaa, Saudi punya tuas. Dengan kata lain: ketika hambatan akses haji dikendalikan oleh aktor yang bisa dijangkau diplomasi Arab Saudi sebagai Pelayan Dua Tanah Suci, hambatan itu bisa diangkat. Tetapi Rafah berbeda.
“Damaskus dibuka. Sanaa dibuka. Rafah tetap terkunci. Karena yang mengunci Rafah bukan rezim Arab yang bisa diajak makan malam di Riyadh. Yang mengunci Rafah adalah sebuah rezim yang sama sekali tidak peduli pada gestur diplomatik Pelayan Dua Tanah Suci.”
Kerajaan Arab Saudi memang merespons. Dekrit Raja Salman bin Abdulaziz mengalokasikan seribu kursi tambahan dalam Program Tamu Haji Raja Salman secara khusus untuk keluarga syuhada, korban luka, dan kerabat tahanan Palestina — paket penuh meliputi transportasi, akomodasi premium di Makkah dan Madinah, katering, dan bahkan hewan kurban. Tetapi pada musim haji 2024, ketika invasi militer rezim Zionis sedang berlangsung di Rafah, seribu kursi itu tidak bisa diisi oleh warga Gaza yang masih terjebak di dalam enklave. Pada akhirnya, kuota itu dialokasikan kepada warga Gaza yang sudah berhasil keluar sebelum penutupan total — mayoritas pengungsi di Mesir dan pasien evakuasi medis. Itulah yang menjadi simbol paling pahit dari seluruh episode ini: bahkan instrumen soft power paling kuat di dunia Muslim, dipersembahkan langsung oleh Penjaga Dua Kota Suci dengan pendanaan total, tidak mampu menembus blokade militer satu rezim asing di pintu gerbang Rafah.
Tas Ihram, Layar Telepon, dan Mata yang Memohon
Pada 14 Juni 2024, di Padang Arafah, lebih dari satu setengah juta jemaah dari seluruh dunia berkumpul untuk salah satu ritus haji yang paling sakral — wukuf, berdiri menghadap Allah dalam doa puncak. Di Makkah, prosesi tawaf mengelilingi Ka’bah berlangsung tanpa henti. Di antara jemaah dari Maroko, perempuan tujuh puluh lima tahun bernama Zahra Benizahra berbicara dengan air mata di pipinya: “Saudara-saudara kami sedang sekarat, dan kami menyaksikannya dengan mata kami sendiri.”
Di Gaza utara, Adnan Abu Foul dan istrinya Um Ibrahim menatap layar telepon genggam mereka di tenda pengungsian. Mereka melihat saudara-saudara mereka tawaf di Ka’bah. Mereka melihat saudara-saudara mereka wukuf di Arafah. Mereka melihat hal-hal yang seharusnya mereka jalani sendiri — hal-hal yang sudah mereka tabung selama dua puluh tahun. Tetapi mereka tidak bisa ada di sana. Mereka tidak bisa pergi karena Rafah ditutup. Mereka tidak bisa pulang karena tidak ada lagi tempat untuk pulang. Mereka hanya bisa duduk di tenda yang didirikan di atas reruntuhan rumah mereka sendiri, dan menonton.
Bagi pembaca Muslim di mana pun di dunia yang membaca tulisan ini sambil mengingat-ingat momen sendiri ketika orang tua atau kakek-nenek mereka berangkat haji — koper yang disiapkan, tas zam-zam yang dibawa pulang, foto-foto di depan Ka’bah yang dibingkai dan digantung di dinding rumah — ada baiknya berhenti sejenak dan membayangkan kalimat ini: tujuh puluh satu orang sudah mati menunggu. Sepuluh ribu lainnya masih menunggu. Dan undian mereka sudah menang. Tas mereka sudah disiapkan. Doa mereka sudah dipanjatkan.
Yang menghalangi mereka bukan kekurangan iman. Bukan kekurangan biaya. Bukan kekurangan kesehatan. Yang menghalangi mereka adalah sebuah pintu di Rafah yang dikunci oleh tank yang sama sekali tidak peduli.
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
Bagi pembaca Muslim Indonesia, yang setiap tahun menyaksikan jutaan saudara berangkat haji dari embarkasi-embarkasi besar di Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar, ada rasa kepedihan khusus dalam membaca laporan ini. Sebagian dari kita mungkin sudah pulang dari haji. Sebagian sedang menunggu. Sebagian sedang menabung. Rasa kepedihan itu wajar — dan ia harus dialirkan ke tindakan.
Pertama, doakan tujuh puluh satu syuhada calon jemaah Gaza secara khusus dalam doa kita masing-masing. Mereka berdoa untuk haji yang tidak pernah mereka tunaikan. Doa kita bagi mereka adalah doa yang melanjutkan apa yang mereka tinggalkan. Ini bukan gestur simbolis kosong. Dalam tradisi Islam, doa orang lain bagi yang sudah wafat memiliki bobot teologis yang nyata. Setiap kali Anda menutup shalat, sebut mereka. Tujuh puluh satu nama yang tidak akan kita ketahui satu per satu, tetapi tetap dapat kita doakan sebagai kolektif.
Kedua, dorong pemerintah Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi untuk menempatkan haji Gaza sebagai isu diplomatik prioritas. Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia dan negara pengirim jemaah haji terbesar setiap tahun. Suara diplomatik Jakarta di forum Organisasi Kerjasama Islam dan dalam relasi bilateral dengan Riyadh memiliki bobot. Tuntutan bahwa pembukaan koridor haji Gaza menjadi syarat tak terpisahkan dari setiap normalisasi diplomatik di kawasan adalah tuntutan yang konsisten dengan amanat konstitusi Indonesia tentang penghapusan penjajahan.
Ketiga, perkuat dukungan finansial untuk lansia Gaza yang masih menunggu. Setelah perang berakhir — dan ia akan berakhir, sebagaimana semua perang berakhir — calon jemaah Gaza yang masih hidup akan membutuhkan biaya untuk akhirnya menunaikan haji yang sudah dirampas tiga musim. Mayoritas dari mereka telah kehilangan rumah, harta benda, dan kemampuan ekonomi. Lembaga-lembaga filantropi Indonesia seperti Baznas, Dompet Dhuafa, dan Rumah Zakat memiliki kapasitas untuk membuka rekening khusus “Bantuan Haji Gaza” yang dapat dialirkan begitu Rafah dibuka. Tidak harus menunggu kemenangan diplomatik untuk memulai persiapan ini.
Di sebuah tenda di Gaza utara, perempuan enam puluh lima tahun bernama Hanan al-Hams masih duduk di atas reruntuhan rumahnya. Di sebuah rak di tenda pengungsian lain, tas ihram milik mendiang ayah Kamelia al-Shafea masih tergantung tak pernah dibuka. Di sebuah layar telepon genggam kecil, Adnan Abu Foul dan Um Ibrahim masih menonton tawaf yang seharusnya mereka jalani.
Tujuh puluh satu nama telah berpulang tanpa pernah menatap Ka’bah dengan mata mereka sendiri. Sepuluh ribu lainnya masih menunggu, sebagian dengan tubuh yang semakin renta dan waktu yang semakin sempit. Bagi rezim yang mengunci pintu Rafah dengan tank, mungkin angka-angka itu tidak berarti apa-apa. Bagi sebagian besar dunia internasional yang sibuk dengan kalkulasi geopolitik, angka-angka itu tinggal statistik kering yang akan dilupakan setelah siklus berita berikutnya.
Tetapi bagi seorang Muslim yang mengerti apa artinya rukun Islam kelima — bagi siapa pun yang pernah melihat orang tuanya menangis bahagia saat namanya dipanggil masuk ke ruang manasik haji, atau bagi siapa pun yang sendiri pernah berdiri di Padang Arafah memohon ampun — angka-angka itu bukan statistik. Mereka adalah panggilan yang belum dijawab.
Pertanyaan yang harus kita ajukan, sebelum musim haji keempat datang dan menggugurkan lebih banyak nama dari daftar tunggu Gaza, sederhana sekali: jika tujuh puluh satu saudara kita sudah mati menunggu pintu Rafah dibuka, apa lagi yang menahan suara kita untuk terus mendesakkan pembukaannya?
Tulisan ini diturunkan pada 26 Mei 2026. Data 71 calon jemaah haji Gaza yang menjadi syuhada dan 10.000 warga yang dirampas haji selama tiga musim dirujuk dari Kementerian Wakaf Palestina via Al Jazeera (24 Mei 2026). Kesaksian Hanan al-Hams, Amna Abu Mutlaq, Kamelia al-Shafea, Al Kahlout, dan pasangan Adnan Abu Foul-Um Ibrahim dirujuk dari Al Jazeera, The National, dan Middle East Online (Juni 2024 – Mei 2026). Konsep “genosida ekonomi struktural” dan data sektor pariwisata religi Gaza dirujuk dari studi Khaled Abu Amer (Palestinian Center for Political Studies, Mei 2026). Perbandingan kasus Suriah dan Yaman dirujuk dari The New Arab, Middle East Monitor, dan TRT World. Tulisan ini didedikasikan untuk 71 calon jemaah haji Gaza yang menjadi syuhada tanpa pernah sempat menatap Ka’bah, untuk ribuan lansia Gaza yang masih menunggu pintu Rafah dibuka, dan untuk sembilan WNI flotilla yang baru saja dibebaskan


