Militer Israel menewaskan sedikitnya delapan orang dalam serangan di kota Tyre, Lebanon selatan, setelah mengeluarkan perintah pengusiran paksa bagi penduduk setempat. Serangan tersebut terjadi di tengah peringatan Iran yang mengancam akan mengambil langkah-langkah menghancurkan jika Israel terus melanjutkan serangannya di Lebanon.
Menurut laporan pada Selasa (9/6), serangan udara Israel menghantam kawasan permukiman padat penduduk di kota pesisir tersebut. Badan pertahanan sipil Lebanon mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan itu terjadi setelah militer Israel memerintahkan warga untuk meninggalkan wilayah tersebut.
Perintah pengungsian paksa itu juga mencakup kawasan Kristen di Tyre yang sebelumnya tidak termasuk dalam wilayah yang diperintahkan untuk dikosongkan. Militer Israel menuduh pejuang Hezbollah beroperasi di daerah tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, kota Tyre terus menjadi sasaran serangan berulang. Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan bahwa lima orang tewas dan delapan lainnya terluka dalam serangan yang terjadi di dekat pusat Palang Merah di Tyre. Di antara korban luka terdapat empat petugas medis.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa pemboman itu menyebabkan kerusakan pada salah satu situs Warisan Dunia UNESCO.
Gelombang serangan mematikan ini terjadi setelah Iran dan Israel kembali saling melancarkan serangan dalam eskalasi terbesar sejak gencatan senjata mereka dimulai pada 8 April lalu. Ketegangan terbaru dipicu oleh serangan Israel terhadap ibu kota Lebanon, Beirut, pada Minggu.
“Kami telah melihat eskalasi yang terus berlanjut dari pihak Israel sejak pertukaran serangan antara Iran dan Israel mereda, ketika kedua pihak pada dasarnya menyatakan tidak akan lagi melakukan serangan satu sama lain,” kata koresponden Al Jazeera, Obaida Hitto, yang melaporkan dari Tyre.
“Namun Israel secara khusus mengecualikan Lebanon selatan dari kebijakan tersebut, dengan mengatakan akan terus menargetkan apa yang mereka anggap sebagai ancaman potensial bagi komunitas mereka di wilayah utara,” tambahnya.
Sementara itu, kelompok bersenjata Lebanon, Hezbollah, yang terlibat pertempuran melawan pasukan Israel di Lebanon selatan, mengklaim telah melancarkan 16 operasi terhadap militer Israel, termasuk di sekitar Kastel Beaufort yang memiliki nilai strategis.
Hezbollah menyatakan telah menargetkan dan menghancurkan dua buldoser militer Israel di desa Yohmor al-Shaqif, dekat kastel tersebut, serta menyerang sejumlah konsentrasi pasukan Israel. Kelompok itu juga mengklaim berhasil mencegat sebuah drone Israel yang beroperasi di wilayah udara Iqlim al-Tuffah.
Lebanon mulai terlibat dalam perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada 2 Maret, ketika Hezbollah yang bersekutu dengan Teheran meluncurkan roket ke wilayah utara Israel. Serangan itu disebut sebagai respons atas berlanjutnya serangan Israel di Lebanon dan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada 28 Februari.
Meskipun Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata pada 8 April, Israel tidak menghentikan operasi militernya di Lebanon. Pemerintah Israel bersikeras bahwa konflik di Lebanon merupakan front yang terpisah dari konflik dengan Iran.
Sebaliknya, Iran sejak lama menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai dengan Washington harus mencakup penghentian perang di Lebanon.
Saat mengumumkan berakhirnya serangan terhadap Israel pada Senin, militer Iran memperingatkan bahwa setiap agresi yang terus berlanjut, termasuk di Lebanon selatan, akan dibalas dengan tindakan yang “jauh lebih keras dan menghancurkan”.
Namun Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menolak peringatan tersebut. Ia menegaskan bahwa operasi terhadap Hezbollah akan terus berlanjut dan mengancam akan menyerang wilayah pinggiran selatan Beirut jika terjadi serangan terhadap Israel utara.
“Setiap upaya Iran untuk menghubungkan Lebanon dengan Iran dan menyerang Israel akan dibalas dengan kekuatan besar,” kata Katz.
Di sisi lain, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, pada Senin mengatakan bahwa sejak 16 April Israel telah melancarkan hampir 3.500 serangan udara, melakukan 407 operasi penghancuran bangunan, dan enam operasi yang disebut sebagai “perataan wilayah”, yang menyebabkan seluruh desa rata dengan tanah.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan jumlah korban tewas akibat ofensif Israel sejak 2 Maret telah mencapai 3.637 orang, sementara 11.188 lainnya mengalami luka-luka.
Lebih dari satu juta warga, atau sekitar seperlima populasi Lebanon, telah mengungsi akibat konflik tersebut.
Kantor Perdana Menteri Lebanon menyebutkan bahwa tempat-tempat penampungan pemerintah telah mencapai kapasitas maksimal di Beirut, Sidon, dan berbagai wilayah lainnya.
Sementara itu, organisasi kemanusiaan International Rescue Committee (IRC) memperingatkan bahwa krisis kemanusiaan di Lebanon terus memburuk. Menurut lembaga tersebut, 94 persen warga yang mengungsi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Direktur IRC untuk Lebanon, Rick Bartoldus, mengatakan banyak warga yang kembali ke Lebanon selatan mendapati rumah mereka, bahkan seluruh desa, telah hancur.
“Kebutuhan kemanusiaan sangat besar, dan jika ada harapan untuk pemulihan, maka kita harus melihat adanya gencatan senjata yang berkelanjutan,” ujarnya kepada Al Jazeera.
