RAMALLAH — Kelompok hak asasi manusia Israel, B’Tselem, menyatakan pasukan Israel telah menewaskan 241 anak dan remaja Palestina di Tepi Barat yang diduduki sejak 7 Oktober 2023 — angka kematian anak tertinggi di wilayah itu sejak Israel mendudukinya pada 1967. Temuan tersebut dirilis dalam laporan berjudul “Unshielded Childhood” (Masa Kecil Tanpa Perlindungan) pada Senin (29/6), yang menyebut pembunuhan itu sebagai hasil dari kebijakan resmi Israel, bukan insiden yang terisolasi.
Menurut B’Tselem, dari 7 Oktober 2023 hingga 28 Juni 2026, pasukan Israel menewaskan 1.086 warga Palestina di Tepi Barat, dengan 241 di antaranya anak dan remaja. Artinya, hampir satu dari setiap empat warga Palestina yang tewas dalam periode tersebut adalah anak di bawah umur. Sepanjang 2025 saja, 54 anak dan remaja tewas.
“Lisensi untuk Membunuh”
Direktur Eksekutif B’Tselem, Yuli Novak, menyatakan pembunuhan anak-anak ini merupakan hasil dari kebijakan Israel yang lebih luas, yang memungkinkan pembunuhan warga Palestina nyaris tanpa pertanggungjawaban. “Pembunuhan anak-anak dan remaja Palestina di Tepi Barat secara meluas dan belum pernah terjadi sebelumnya adalah hasil dari kebijakan Israel yang lebih luas,” kata Novak dalam laporan tersebut.
Laporan itu mengutip pernyataan Kepala Komando Tengah militer Israel, Mayor Jenderal Avi Bluth, yang menurut B’Tselem membanggakan bahwa pasukan Israel “membunuh seperti yang belum pernah kami lakukan sejak 1967” — merujuk pada Perang Enam Hari ketika Israel merebut Tepi Barat. “Ketika komandan militer kawasan membanggakan bahwa Israel membunuh warga Palestina ‘seperti yang belum pernah kami lakukan sejak 1967’, ia mengonfirmasi persis hal itu: sistem ini tidak sekadar mendukung mereka yang menarik pelatuk — ia secara efektif memberi mereka lisensi untuk membunuh,” kata Novak.
Bluth juga mengklaim bahwa “96 persen dari mereka yang tewas terlibat dalam terorisme”, sebuah pernyataan yang dibantah B’Tselem sebagai “kebohongan terang-terangan”. Menurut analisis kelompok itu atas anak-anak yang tewas pada 2025, hanya dua dari 54 korban yang membawa senjata api saat ditembak, sementara tidak ditemukan bukti bahwa korban lain merupakan ancaman atau anggota kelompok bersenjata.
Jenazah Ditahan, Tanpa Dakwaan
B’Tselem menyatakan bahwa pembunuhan anak-anak di Tepi Barat bukan akibat kesalahan yang terisolasi atau pelanggaran terhadap perintah militer, melainkan hasil kebijakan yang memperluas keadaan di mana tentara diizinkan menembak, termasuk terhadap anak-anak. Kelompok itu mengaitkan lonjakan kematian dengan pelonggaran aturan buka tembak yang diumumkan militer Israel pada akhir 2021, yang dilaporkan mengizinkan tentara menggunakan tembakan mematikan terhadap pelempar batu, dan kemudian diperluas lebih jauh setelah Oktober 2023.
Mengutip data kelompok HAM Israel lainnya, Yesh Din, B’Tselem menyatakan tidak ada satu pun dakwaan yang diketahui telah diajukan terkait pembunuhan warga Palestina di Tepi Barat sejak Oktober 2023, termasuk kasus-kasus yang korbannya anak-anak. Laporan itu juga menemukan bahwa di hampir seperempat kasus yang didokumentasikan pada 2025, pasukan Israel menghalangi tim medis atau warga setempat menjangkau anak-anak yang terluka. Israel hingga kini masih menahan jenazah 18 dari 54 anak yang tewas pada 2025.
Angka B’Tselem sedikit berbeda dengan catatan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), yang menyatakan pasukan Israel telah menewaskan 1.105 warga Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur sejak 7 Oktober 2023, termasuk sedikitnya 242 anak. B’Tselem menegaskan pembunuhan di Tepi Barat tidak dapat dipisahkan dari pembunuhan lebih dari 21.000 anak Palestina di Jalur Gaza pada periode yang sama. Laporan ini muncul sepekan setelah Komisi Penyelidikan Independen PBB menyimpulkan bahwa pasukan Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina — temuan yang ditolak keras oleh Israel. (IW)
