
Gaza hari ini tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya krisis kemanusiaan. Gaza juga menjadi ruang besar tempat narasi, kepentingan, dan suara kemanusiaan saling bertarung. Di tengah konflik kawasan yang melibatkan banyak aktor besar, penderitaan rakyat Palestina sering kali tertutup oleh bahasa politik, keamanan, dan kepentingan geopolitik.
Padahal, di balik setiap istilah yang muncul di media, ada manusia yang kehilangan rumah, keluarga, makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan rasa aman. Inilah titik penting yang sejalan dengan arah perjuangan International Networking for Humanitarian, yaitu menghadirkan kerja kemanusiaan yang profesional, berskala internasional, dan mengedepankan sisi humanisme demi mengembalikan stabilitas kehidupan masyarakat dunia.
Dalam banyak pemberitaan arus utama Barat, serangan yang dilakukan oleh Israel atau sekutunya sering digambarkan sebagai bentuk “pembelaan diri” atau “operasi keamanan”. Sementara itu, respons dari Palestina lebih sering diberi label sebagai ancaman, provokasi, atau tindakan ekstrem. Pilihan kata semacam ini memiliki pengaruh besar. Ia dapat membentuk cara publik melihat siapa korban, siapa pelaku, dan siapa yang dianggap memiliki hak untuk menggunakan kekuatan.
Di sisi lain, media Timur Tengah, media alternatif, jurnalis warga, dan aktivis kemanusiaan menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Mereka lebih banyak menampilkan wajah manusia dari tragedi Gaza. Anak-anak yang kehilangan keluarga, ibu yang mencari makanan, tenaga medis yang bekerja tanpa cukup obat, serta pengungsi yang bertahan di tenda darurat. Dari sini terlihat bahwa media tidak hanya menyampaikan informasi. Media juga menentukan sisi kemanusiaan mana yang terlihat dan sisi mana yang diabaikan.
Cara media membingkai Gaza sangat menentukan arah empati publik. Ketika Gaza dibahas hanya sebagai isu keamanan, maka korban sipil mudah tenggelam di balik istilah militer. Namun ketika Gaza dipahami sebagai krisis kemanusiaan akibat pendudukan, blokade, dan ketimpangan kekuatan, maka publik dapat melihat persoalan ini secara lebih utuh. Di titik ini, kerja kemanusiaan tidak boleh berhenti pada bantuan fisik. Ia juga perlu hadir dalam bentuk edukasi publik, advokasi, dan penyampaian narasi yang berpihak pada martabat manusia.
Pemberitaan global juga tidak lepas dari kepentingan besar yang bekerja di balik layar. Kepemilikan media, kepentingan ekonomi, akses terhadap sumber resmi, tekanan politik, dan arus ideologi dominan dapat memengaruhi sudut pemberitaan. Karena itu, pernyataan pejabat negara atau militer sering mendapat ruang yang lebih besar dibandingkan suara korban sipil. Akibatnya, penderitaan warga Gaza tidak selalu mendapat tempat yang adil dalam percakapan dunia.
Di sinilah peran lembaga kemanusiaan menjadi penting. INH tidak hanya hadir untuk menyalurkan bantuan, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar menjaga agar suara korban tetap terdengar. Bantuan pangan, layanan kesehatan, tenda pengungsian, air bersih, dan program kemanusiaan lainnya perlu berjalan bersama dengan narasi yang jujur, berimbang, dan menghormati martabat penerima manfaat. INH juga menekankan ajakan kepada masyarakat, lembaga, perusahaan, dan pemerintah untuk bersatu dalam meningkatkan peran sosial dalam penanggulangan krisis kemanusiaan.
Perhatian publik dunia sangat dipengaruhi oleh isu yang paling sering ditampilkan media. Ketika konflik besar antarnegara lebih banyak dibicarakan, isu Gaza dapat tersisih dari ruang utama pemberitaan. Gencatan senjata, akses bantuan, krisis pangan, korban anak-anak, dan kerusakan fasilitas kesehatan bisa kehilangan sorotan. Bukan karena isu itu tidak penting, tetapi karena perhatian dunia sedang diarahkan ke isu lain yang dianggap lebih besar secara politik.
Namun media sosial mengubah keadaan. TikTok, Instagram, Telegram, X, dan berbagai kanal digital membuat warga Gaza, jurnalis independen, relawan, dan organisasi kemanusiaan dapat menyampaikan kondisi lapangan secara langsung. Video pendek tentang antrean makanan, rumah sakit yang penuh, reruntuhan bangunan, dan keluarga yang bertahan di tenda sering kali mampu membangun empati lebih kuat daripada laporan politik yang kaku.
Meski begitu, ruang digital juga memiliki tantangan. Konten tentang Palestina kerap menghadapi pembatasan, penghapusan, penurunan jangkauan, atau tekanan algoritma. Ini menunjukkan bahwa perjuangan narasi tidak selalu berjalan di ruang yang netral. Suara kemanusiaan tetap perlu diperjuangkan agar tidak tenggelam oleh sistem yang lebih mengutamakan kepentingan platform, tekanan politik, atau sensitivitas tertentu.
Gaza juga membuktikan bahwa solidaritas kemanusiaan dapat tumbuh melalui jaringan global. Masyarakat dari berbagai negara dapat ikut menyebarkan informasi, menggalang donasi, menguatkan kampanye, mengorganisasi aksi, dan menekan pihak-pihak yang memiliki kuasa. Solidaritas untuk Palestina kini bergerak melalui banyak jalur, mulai dari aksi lapangan, kampanye digital, program bantuan, kolaborasi lembaga, hingga edukasi publik.
Dalam sudut pandang pascakolonial, cara Gaza digambarkan oleh sebagian media Barat juga perlu dibaca secara kritis. Palestina sering ditempatkan sebagai ancaman, sementara Israel lebih sering diberi ruang sebagai pihak yang mempertahankan diri. Latar panjang pendudukan, blokade, pengusiran, dan ketimpangan kekuatan tidak selalu dijelaskan secara utuh. Akibatnya, publik dapat melihat konflik ini seolah-olah berdiri sendiri, tanpa memahami akar persoalan yang telah berlangsung lama.
Narasi seperti ini berbahaya karena dapat mengurangi sisi manusia dari warga Palestina. Ketika korban hanya disebut sebagai angka, ketika anak-anak hanya hadir sebagai statistik, dan ketika penderitaan sipil tidak diberi konteks, maka empati publik dapat melemah. Padahal dalam kerja kemanusiaan, setiap angka adalah manusia. Setiap korban memiliki nama, keluarga, harapan, dan hak untuk hidup dengan aman.
Karena itu, narasi kemanusiaan harus terus dihidupkan. Gaza tidak boleh hanya dibicarakan sebagai isu perang. Gaza harus dilihat sebagai amanah kemanusiaan. Di sana ada masyarakat sipil yang membutuhkan perlindungan, bantuan, dan keberpihakan moral dari dunia. Dalam konteks ini, kerja INH menjadi bagian dari upaya menjaga martabat manusia, menguatkan solidaritas, dan menghadirkan kepedulian yang dapat diwujudkan dalam aksi nyata.
Untuk membaca fenomena ini secara lebih utuh, analisis media perlu memperhatikan beberapa hal. Pertama, pilihan kata yang digunakan media, misalnya perbedaan antara “pembelaan diri” dan “agresi”. Kedua, siapa sumber utama yang dikutip, apakah pejabat negara, militer, dokter, relawan, warga sipil, atau jurnalis lapangan. Ketiga, bagaimana judul, foto, kutipan, dan alur berita disusun. Keempat, bagian mana yang ditampilkan dan bagian mana yang dihilangkan.
Dari pembacaan tersebut, Gaza dapat dipahami sebagai ruang pertarungan narasi kemanusiaan digital. Konflik ini tidak hanya berlangsung melalui senjata, tetapi juga melalui bahasa, gambar, algoritma, dan jaringan informasi. Media besar dapat membentuk opini publik melalui sudut pemberitaan tertentu, sementara jaringan kemanusiaan dan media alternatif berupaya mengembalikan fokus pada manusia yang menjadi korban.
Bagi lembaga kemanusiaan, narasi ini penting karena kerja kemanusiaan membutuhkan kepercayaan, kepedulian, dan partisipasi publik. Bantuan tidak akan bergerak tanpa kesadaran. Kesadaran tidak akan tumbuh tanpa informasi yang jujur. Informasi tidak akan kuat tanpa narasi yang menjaga martabat korban. Karena itu, memperjuangkan Gaza juga berarti memperjuangkan cara dunia melihat manusia sebagai manusia.
Gaza adalah titik temu antara krisis kemanusiaan, kepentingan geopolitik, bias media, dan solidaritas global. Yang diperebutkan bukan hanya wilayah, tetapi juga makna. Bukan hanya siapa yang menang secara militer, tetapi siapa yang dipercaya oleh nurani publik dunia. Di tengah kabut propaganda, tugas kemanusiaan adalah menjaga agar suara korban tetap terdengar, bantuan tetap mengalir, dan kepedulian tidak berhenti sebagai wacana. (iw)


