Al-Quds, Mulai dari apotek hingga toko pakaian, warga Palestina di Israel melaporkan bahwa atasan atau supervisor mereka semakin sering mengatur bahasa yang mereka gunakan untuk berkomunikasi sehari-hari. Tidak sedikit warga Palestina yang mengeluhkan larangan berbicara bahasa Arab di tempat kerja.
Para pengacara yang mendampingi warga Palestina di Israel itu mengatakan bahwa praktik diskriminasi menjadi semakin terang-terangan. Demikian seperti dilansir Middle East Eye, Selasa (28/7.
Salma, bukan nama sebenarnya, menjadi salah satu warga Palestina yang mengalami diskriminasi. Dia menuturkan bahwa dirinya terkejut saat manajer toko tempatnya bekerja mengirim pesan via WhatsApp, yang isinya menginstruksikan agar dirinya dan karyawan lainnya mematuhi larangan berbicara bahasa Arab.
Sama seperti rekan-rekan kerjanya yang lain, Salma yang baru berusia 19 tahun ini, dan merupakan warga negara Israel keturunan Palestina, menganggap larangan itu tidak masuk akal dan mengabaikannya.
Namun situasi di tempat kerja Salma berubah menjadi tegang, dan puncaknya ketika salah satu rekan kerja Salma berbicara dalam bahasa Arab meskipun diselingi dengan bahasa Ibrani saat hendak membawa kotak ke ruang penyimpanan, sang manajer langsung naik pitam.
“Dia mulai berteriak, menendang kotak-kotak, dan mengatakan kepada kami bahwa kami dilarang berbicara bahasa Arab,” tutur Salma kepada Middle East Eye.
“Dia memberitahu kami: ‘Ini adalah negara Yahudi. Di sini kita hanya berbicara bahasa Ibrani. Bahasa Arab itu untuk di rumah saja,” ujarnya.
Salma mengatakan bahwa para staf di tempat kerjanya semuanya keturunan Palestina, dan hanya sang manajer yang merupakan warga Yahudi Israel. Dia menambahkan bahwa ketika beberapa staf memprotes larangan itu, mereka justru dibiarkan tanpa shift kerja selama dua bulan, sebelum ditawari pindah ke cabang lainnya yang lokasinya sulit dijangkau.
Peristiwa yang dialami Salma menjadi salah satu dari sejumlah kejadian yang dilaporkan dalam beberapa bulan terakhir oleh para pekerja Palestina di Israel, yang mengeluhkan bahwa mereka dilarang berbicara bahasa Arab di tempat kerja. Keluhan-keluhan itu mencakup berbagai tempat, mulai dari rumah sakit dan apotek hingga toko ritel.
Salah satu kasus terbaru melibatkan seorang karyawan Palestina di cabang apotek Good Pharm di Jaffa. Laporan media lokal mempublikasikan pesan WhatsApp dari manajer karyawan tersebut, yang diduga mengancam para karyawan yang berbicara dalam bahasa lainnya selain bahasa Ibrani.
Manajer tersebut mengklaim bahwa mendengar bahasa Arab dapat membuat para pelanggan yang trauma dengan serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, merasa terganggu.
Diketahui bahwa warga keturunan Palestina di Israel merupakan penduduk asli wilayah Palestina secara historis, yang tetap tinggal setelah milisi Zionis mengusir sekitar 750.000 warga Palestina dalam peristiwa Nakba tahun 1948 silam demi mendirikan negara Palestina.
Saat ini, komunitas keturunan Palestina di Israel berjumlah sekitar dua juta jiwa, yang mencakup sekitar 20 persen dari populasi Israel.
Sejak serangan Oktober 2023, mereka menghadapi peningkatan tindak penangkapan, tindakan disipliner, dan kehilangan pekerjaan akibat ekspresi politik terkait genosida di Gaza.


