HomeBeritaKorban Tewas di Gaza Tembus 72.783 Jiwa, 776 Jenazah Baru Ditemukan dari...

Korban Tewas di Gaza Tembus 72.783 Jiwa, 776 Jenazah Baru Ditemukan dari Reruntuhan dalam Sepekan

GAZA CITY — Otoritas kesehatan di Jalur Gaza melaporkan jumlah korban tewas akibat agresi militer Israel yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menembus angka 72.783 jiwa per Sabtu (23/5/2026). Sementara itu, sebanyak 172.779 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Mayoritas korban berasal dari kelompok rentan, yaitu perempuan dan anak-anak.

Angka tersebut mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa pekan terakhir setelah tim penyelamat berhasil mengakses sejumlah wilayah yang sebelumnya terisolasi akibat operasi militer. Dalam sepekan terakhir saja, sedikitnya 776 jenazah baru ditemukan dari balik puing-puing bangunan di berbagai titik kantong Gaza, mulai dari Gaza City di utara hingga Rafah di selatan.

Pihak medis menegaskan angka yang dipublikasikan masih jauh di bawah jumlah korban yang sesungguhnya. Sumber dari Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan ribuan korban diperkirakan masih terjebak di bawah timbunan bangunan yang hancur. Kendala akses bagi ambulans dan tim penyelamat menyebabkan proses evakuasi dan identifikasi berjalan sangat lambat.

Gencatan Senjata Rapuh, Serangan Sporadis Berlanjut

Meski rencana perdamaian 20 poin yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memasuki fase implementasi sejak Oktober 2025, sejumlah insiden kekerasan masih terus dilaporkan terjadi. Israel beberapa waktu lalu mengeklaim telah menewaskan Ezzedin al-Haddad, salah seorang komandan militer Hamas, dalam sebuah serangan udara di Kota Gaza yang berlangsung di tengah masa gencatan senjata.

Sementara itu, pasukan Israel bersama pemukim ilegal juga dilaporkan kerap melakukan operasi penyerangan ke sejumlah desa dan kota di Tepi Barat. Dalam serangan terbaru ke Jalur Gaza, tujuh warga Palestina dilaporkan tewas.

Krisis Kemanusiaan Memperburuk Angka Korban

Lonjakan jumlah korban tidak hanya disebabkan oleh serangan militer langsung, tetapi juga oleh memburuknya krisis kemanusiaan. Jalur Gaza disebut tengah memasuki fase paling berbahaya dari kelaparan massal yang terorganisasi, menurut peringatan Kantor Media Pemerintah Gaza pekan lalu.

Pada periode 1 hingga 18 Mei 2026, sekitar 10.800 truk bantuan dijadwalkan masuk ke Gaza. Namun hanya 2.719 truk yang berhasil mencapai tujuan—setara dengan seperempat kebutuhan minimum. Lebih dari 250.000 keluarga kini sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan, sementara lebih dari 1,5 juta warga menghadapi ancaman kerawanan pangan yang terus memburuk.

Kondisi kesehatan yang menurun akibat kelaparan, minimnya layanan medis, dan rusaknya infrastruktur air bersih disebut sebagai faktor yang turut meningkatkan angka kematian, terutama di kalangan bayi, lansia, dan pasien dengan penyakit kronis.

Generasi yang Hilang

Salah satu dampak paling memilukan dari konflik ini adalah jatuhnya korban dalam jumlah besar di kalangan anak-anak. Data kantor hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan setidaknya 21.000 anak di Gaza menyandang disabilitas akibat konflik. Ribuan di antaranya menjalani amputasi.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah Akram Sharif al-Fayoumi, remaja berusia 13 tahun asal lingkungan Shuja’iyya, Gaza City. Akram kehilangan lengan kiri dan kaki kanannya akibat serangan militer Israel pada Agustus 2024, ketika usianya baru 11 tahun. Hingga kini, ia masih tinggal di tenda pengungsian bersama keluarganya di bagian barat Gaza City.

Kecaman Internasional Menguat

Berbagai pihak internasional menyuarakan kecaman atas situasi terkini di Gaza. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pernyataan resmi pada Sabtu (16/5/2026) menyebut Zionis Israel sebagai salah satu pemicu utama instabilitas kawasan. Sementara itu, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menuai kecaman internasional sekaligus teguran keras dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setelah merilis video yang dinilai menghina aktivis armada kemanusiaan Gaza.

Di tingkat regional, Indonesia melalui keterlibatannya di Dewan Perdamaian (Board of Peace) dan pengiriman 5.000 personel sebagai bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional terus mendorong upaya pembukaan akses bantuan kemanusiaan dan perlindungan bagi warga sipil di Gaza.

Pemakaman Tanpa Akhir

Di lapangan, situasi di pemakaman-pemakaman Gaza menggambarkan beratnya beban yang ditanggung wilayah ini. Pekerja pemakaman bekerja siang-malam untuk memberikan layak makam bagi para korban. Sebagian keluarga bahkan terpaksa menguburkan kerabat mereka di halaman rumah atau di tanah kosong terdekat karena pemakaman umum sudah tidak mampu menampung jenazah baru.

Angka 72.783 yang dirilis hari ini, bagi para keluarga korban, bukan sekadar statistik. Setiap angka adalah satu nama, satu wajah, satu kisah yang terputus. Dan dengan masih ribuan jenazah yang diperkirakan tertimbun reruntuhan, angka tersebut hampir pasti akan terus bertambah dalam beberapa pekan ke depan. (IW)

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler