HomeBaitul MaqdisWHO Desak Bantuan Kesehatan Masuk ke Gaza dalam Skala Besar Jelang Musim...

WHO Desak Bantuan Kesehatan Masuk ke Gaza dalam Skala Besar Jelang Musim Dingin

JENEWA — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (2/10/2026) meminta Israel membuka akses bagi pasokan kemanusiaan dan kesehatan ke Gaza dalam jumlah besar menjelang musim dingin. WHO memperingatkan bahwa penundaan berulang pengiriman obat-obatan dan alat bantu medis berisiko berdampak parah bagi warga Palestina yang membutuhkannya.

Perwakilan WHO untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Dr. Reinhilde Van De Weerdt, menyampaikan hal itu dalam keterangan yang dirilis dari Jenewa. Menurut dia, pasokan yang datang terlambat tidak menyelamatkan nyawa, sekalipun jenis barangnya tepat.

Jalur masuk terbatas

Merujuk laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), situasi kemanusiaan di Gaza disebut masih “sangat berat”, hampir 12 bulan setelah gencatan senjata antara Hamas dan Israel berlaku. Gencatan senjata itu diberlakukan sejak 10 Oktober 2025 dan hingga kini diwarnai serangan udara Israel serta aktivitas militer lainnya.

Bantuan yang disetujui hanya bisa masuk lewat Kerem Shalom di ujung selatan Gaza, sementara Rafah dibuka terbatas untuk pergerakan orang, termasuk pasien yang membutuhkan perawatan di luar negeri. Sedikitnya empat pintu masuk utama lain tetap tertutup: Kissufim, Gerbang 96, Erez, dan Erez Barat.

Van De Weerdt meminta diterapkannya sistem multi-perlintasan agar bantuan tidak hanya mengalir lewat sedikit pintu.

Penolakan pasokan “penggunaan ganda”

WHO menyoroti penolakan sejumlah barang medis oleh otoritas Israel. Dalam enam bulan terakhir, satu pengiriman prostetik dan alat bantu disabilitas ditolak empat kali. Setiap penolakan, kata Van De Weerdt, berarti tambahan penundaan bagi orang yang telah kehilangan anggota tubuh.

Obat-obatan, sebaliknya, relatif lancar, dengan hampir 87 persen disetujui dan sedikit di atas 1 persen ditolak. Ia juga meminta obat esensial tidak dikategorikan sebagai barang “penggunaan ganda”, istilah yang digunakan untuk melarang barang yang dikhawatirkan bisa dipakai pejuang Hamas. Menurut WHO, obat-obatan tersebut merupakan standar medis yang diakui secara global.

Risiko penyakit di tenda pengungsian

WHO menyebut hampir dua juta orang di Gaza membutuhkan tempat berlindung dari dingin dan banjir. Seperti pada musim dingin sebelumnya, warga diperkirakan menghadapi risiko wabah penyakit yang lebih tinggi akibat tidak adanya hunian aman, minimnya air bersih, dan banyaknya tikus yang gigitannya dapat menularkan infeksi. Penghancuran laboratorium kesehatan masyarakat membuat deteksi wabah lebih sulit.

Sehari sebelumnya, Kamis (1/10), OCHA memperingatkan risiko kesehatan masyarakat akibat penumpukan sampah padat di pusat Kota Gaza. Perbaikan sanitasi dinilai rapuh karena akses terhadap alat berat, oli mesin, dan suku cadang tidak terjamin. Mitra penjinakan ranjau juga melaporkan masih kekurangan izin dan peralatan untuk menyingkirkan bahan peledak yang tidak meledak di reruntuhan.

Peringatan dari otoritas Gaza

Terpisah dari WHO, Kantor Media Pemerintah Gaza pada 29 September menyatakan lebih dari 1,5 juta warga terusir tinggal di tenda yang sudah usang. Kantor itu menyebut 162.000 dari sekitar 270.000 tenda di Gaza tidak lagi layak pakai. Angka-angka ini berasal dari pihak otoritas Gaza dan belum diverifikasi secara independen dalam laporan ini.

Sumber: UN News (2/10/2026), melalui Mirage News; Middle East Eye (29/9/2026).

ARTIKEL TERKAIT

Terkini