HomeSejarah Indonesia-PalestinaAhmed Yassin: Dari Kursi Roda di Rimal hingga Pendiri Hamas

Ahmed Yassin: Dari Kursi Roda di Rimal hingga Pendiri Hamas

GAZA CITY — Pada pagi 22 Maret 2004, sebuah helikopter tempur Israel menembakkan rudal ke arah kursi roda yang sedang didorong menjauh dari sebuah masjid di Gaza City, tak lama setelah salat subuh. Penumpang kursi roda itu, Ahmed Ismail Hassan Yassin, tewas seketika bersama sedikitnya delapan orang lain di sekitarnya. Ia adalah pendiri dan pemimpin spiritual Hamas — organisasi yang lahir dari jaringan amal keagamaan yang ia bangun di Gaza selama lebih dari satu dekade sebelum Intifada Pertama meletus.

Kematiannya menutup riwayat hidup yang penuh perdebatan angka dan fakta: tahun kelahiran yang tidak pasti, usia saat kecelakaan yang melumpuhkannya, hingga bagaimana ia mengubah jaringan klinik dan masjid menjadi gerakan politik-militer yang masih membentuk wajah Gaza hingga kini.

Pengungsi dari Ashkelon

Yassin lahir di al-Jura, sebuah desa kecil dekat kota Ashkelon (dahulu al-Majdal), pada masa Mandat Inggris atas Palestina. Tahun kelahirannya diperdebatkan: paspor Palestinanya mencantumkan 1 Januari 1929, tetapi sumber-sumber Palestina dan pemberitaan Barat umumnya menyebut ia lahir pada 1936 atau 1937. Artikel ini menggunakan rentang 1936–1937 sebagaimana tercatat di sebagian besar ensiklopedia akademik, sambil menandai bahwa kepastian tanggal lahirnya tidak pernah terverifikasi tunggal.

Ayahnya, Abdullah Yassin, meninggal ketika Ahmed berusia tiga tahun. Pada 1948, keluarganya mengungsi — atau terusir, tergantung sumber yang dirujuk — dari Ashkelon ke Gaza City akibat Perang Palestina 1948, bergabung dengan puluhan ribu pengungsi lain yang membentuk populasi kamp-kamp Jalur Gaza pada masa itu.

Di masa remaja, sebuah cedera mengubah hidupnya secara permanen. Sumber-sumber berbeda pendapat soal usianya saat itu — sebagian menyebut 12 tahun, sebagian lain 16 tahun. Cedera tulang belakang yang ia alami saat bergulat dengan seorang teman membuatnya lumpuh total (quadriplegic) dan bergantung pada kursi roda seumur hidup. Menurut sejumlah catatan biografis, Yassin sempat menyembunyikan penyebab sebenarnya dari keluarganya karena khawatir memicu perselisihan dengan keluarga temannya, dan mengaku cedera terjadi saat bermain di pantai.

Dari Guru Mengaji ke Pendiri Jaringan Amal

Meski lumpuh, Yassin sempat kuliah di Universitas Ain Shams, Kairo, pada 1959, namun terpaksa berhenti karena kondisi kesehatan dan keterbatasan biaya. Ia kembali ke Gaza dan bekerja sebagai guru bahasa Arab di sebuah sekolah dasar di kawasan Rimal. Pekerjaan ini memberinya stabilitas finansial yang memungkinkannya menikah pada 1960 dengan Halima Yassin, kerabatnya sendiri; pasangan ini kemudian memiliki sebelas anak.

Sepanjang masa inilah Yassin aktif membangun cabang Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood) di Gaza, dan pada 1968 ia ditunjuk sebagai pemimpinnya di wilayah itu. Titik penting datang pada 1973, ketika Yassin mendirikan al-Mujama al-Islamiya (Pusat Islam) — sebuah organisasi payung yang mengelola masjid, klinik, bank darah, tempat penitipan anak, dapur umum, dan program zakat. Tiga tahun kemudian, ia turut mendirikan al-Jam’iyya al-Islamiyya (Perhimpunan Islam), dan pada 1978 berperan dalam pendirian Universitas Islam Gaza.

Otoritas militer Israel di Gaza mengakui al-Mujama sebagai badan amal resmi pada 1979. Sejumlah sejarawan mencatat bahwa Israel saat itu cenderung mentoleransi — bahkan pada taraf tertentu memandang menguntungkan — aktivitas sosial kelompok Islamis semacam ini, karena dianggap sebagai penyeimbang terhadap pengaruh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pimpinan Yasser Arafat yang saat itu berhaluan sekuler-nasionalis. Ini bukan berarti Israel mendirikan atau mengarahkan gerakan tersebut — sejumlah peneliti menegaskan pembedaan antara “toleransi” dan “penciptaan” — namun izin resmi itu memungkinkan jaringan al-Mujama tumbuh menjadi salah satu infrastruktur sosial terbesar di Gaza pada masanya, dengan sekitar 2.000 anggota pada akhir 1970-an.

Penangkapan Pertama dan Kelahiran Hamas

Pada 1984, aparat Israel menangkap Yassin dengan tuduhan mengumpulkan dan menyembunyikan senjata untuk digunakan melawan pasukan pendudukan. Ia divonis 13 tahun penjara, namun dibebaskan pada Mei 1985 sebagai bagian dari Perjanjian Jibril — pertukaran tahanan besar antara Israel dan Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) pimpinan Ahmed Jibril, yang melepas lebih dari 1.500 tahanan Palestina dengan imbalan sejumlah kecil warga Israel.

Intifada Pertama meletus pada Desember 1987. Dalam konteks itu, Yassin bersama sejumlah tokoh Ikhwanul Muslimin Gaza — termasuk Abdel Aziz al-Rantisi — mendirikan Harakat al-Muqawama al-Islamiyya, yang disingkat Hamas, pada 10 Desember 1987. Organisasi ini tumbuh langsung dari infrastruktur al-Mujama yang telah dibangun Yassin sejak 1973, namun dengan orientasi baru: perlawanan bersenjata terhadap pendudukan Israel dan penolakan terhadap dominasi PLO atas representasi politik Palestina. Piagam Hamas, yang diterbitkan pada 1988, memadukan nasionalisme Palestina dengan tujuan Islamis dan komitmen jihad bersenjata melawan Israel.

Yassin ditangkap kembali pada 1989 setelah dituduh memerintahkan penculikan dan pembunuhan dua tentara Israel, Avi Sasportas dan Ilan Sa’adon, yang jasadnya kemudian ditukar dengan tahanan Hamas. Ia dijatuhi dua hukuman seumur hidup oleh pengadilan Israel.

Pembebasan 1997 dan Delapan Tahun Terakhir

Yassin mendekam di penjara Israel hingga Oktober 1997, ketika ia dibebaskan atas permintaan Raja Hussein dari Yordania. Pembebasan itu merupakan bagian dari kesepakatan setelah agen Mossad gagal membunuh pemimpin biro politik Hamas, Khaled Mashal, di Amman — Israel terpaksa menyerahkan penawar racun bagi Mashal dan sejumlah kompensasi, termasuk pembebasan Yassin, untuk meredam krisis diplomatik dengan Yordania.

Setelah kembali ke Gaza, Yassin disambut sebagai tokoh besar dan melanjutkan perannya sebagai pemimpin spiritual Hamas hingga akhir hayatnya. Selama periode ini, sayap militer Hamas, Brigade Izz ad-Din al-Qassam, melancarkan serangkaian aksi termasuk bom bunuh diri pertama pada 1993, dan Yassin — meski tak pernah dituduh terlibat langsung dalam peledakan bom — dianggap otoritas Israel sebagai figur yang mengesahkan dan mendorong operasi-operasi tersebut.

Pembunuhan 22 Maret 2004

Serangan yang menewaskan Yassin terjadi sekitar satu minggu setelah pengeboman Pelabuhan Ashdod. Helikopter tempur Israel menembakkan rudal ke arah kendaraan yang membawanya saat ia meninggalkan masjid dekat rumahnya di kawasan Sabra, Gaza City, seusai salat subuh. Serangan itu menewaskan Yassin bersama dua pengawalnya secara instan, dan total menewaskan sembilan warga sipil lain di sekitar lokasi, dengan sedikitnya 15 orang luka-luka termasuk dua putra Yassin.

Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan saat itu menyatakan kecaman terbuka terhadap pembunuhan tersebut sebagai tindakan di luar hukum, meski Dewan Keamanan PBB gagal mengesahkan resolusi kecaman karena hak veto Amerika Serikat. Pemerintah Amerika Serikat sendiri bersikap netral, mendesak kedua pihak menahan diri tanpa mengecam tindakan Israel secara langsung. Kepemimpinan Hamas segera beralih ke Abdel Aziz al-Rantisi, yang sendiri terbunuh dalam serangan udara Israel serupa kurang dari satu bulan kemudian, pada 17 April 2004.

Sekitar 200.000 orang dilaporkan menghadiri prosesi pemakaman Yassin di Gaza — salah satu pengumpulan massa terbesar dalam sejarah wilayah itu.

Warisan yang Diperdebatkan

Bagi pendukungnya, Yassin dikenang sebagai figur yang membangun institusi sosial dari nol di tengah kemiskinan pengungsian, dan bertahan menjalankan perannya meski lumpuh total sejak remaja. Bagi para pengkritiknya — termasuk pemerintah Israel dan sejumlah pemerintah Barat yang mengategorikan Hamas sebagai organisasi teroris — ia adalah figur yang mengubah konflik Israel-Palestina dari sengketa politik-teritorial menjadi pertarungan yang dibingkai dalam kerangka keagamaan, dan yang mengesahkan penggunaan bom bunuh diri sebagai taktik.

Kerangka organisasi yang ia dirikan pada 1973 — gabungan antara jaringan amal sosial dan struktur politik-militer — tetap menjadi model dasar Hamas hingga perang yang berlangsung sejak Oktober 2023 dan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Masjid dan situs-situs bersejarah lain di Gaza yang terkait dengan periode-periode sebelumnya, seperti Masjid Sayyid Hashim dan Qasr al-Basha, mengalami kerusakan berat atau hancur dalam perang tersebut — sebuah pengingat bahwa lapisan sejarah Gaza, dari era Firaun hingga era Hamas, terus-menerus bersinggungan dengan kehancuran fisik kota itu sendiri.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini