JAKARTA – Semangat solidaritas untuk Palestina kembali menggema di Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (5/6). Sejumlah tokoh nasional, aktivis, akademisi, dan perwakilan Palestina hadir dalam kajian bertema Menuju Perdamaian Dunia: Kemerdekaan Palestina sebagai Amanat Kemanusiaan dan Keadilan Internasional yang diikuti ratusan jamaah.
Ketua Masjid, bapak H. Benny Suprihartadi, SH. mengungkapkan, “ini bukan pertama kalinya kita mengadakan kajian tentang Palestina, saat ini kita gaungkan lagi mengingat rapuhnya ketahanan Zionist Israel dan suara kita kaum muslimin harus lebih lantang untuk menyelamatkan saudara kita di Palestina.”
“Sejarah panjang Masjid Cut Meutia harus kita gaungkan, bagaimana peran pemuda Remaja Islam Masjid Cut Meutia (RICMA) membangkitkan semangat kaum muda untuk terus menyuarakan Palestina.” ujarnya.
Dengan menggebu-gebu dan penuh emosional Duta Besar Palestina di Indonesia, Abdalfattah Alsattari, “Saya lahir dan dibesarkan di Gaza, setiap huruf yang saya ucapkan hari ini adalah didikan ibu saya untuk terus menyuarakan perjuangan saudara saya di Palestina. Optimisme yang terus kami perjuangkan adalah, Palestina pasti akan merdeka.”
Pembicara selanjutnya dari Husein Gaza, aktivis dan jurnalis Indonesia yang pernah tinggal di Gaza
Apakah Palestina akan merdeka? nah ini pertanyaan yang ditakuti emak-emak ya, hehe, karena banyak yang mengira ketika Palestina merdeka maka kiamat terjadi, ini harus diluruskan. Tenang ibu-ibu, ketika Palestina merdeka, in syaa Allah kiamat belum terjadi. Sudah dua kejadian kalau kita lihat sejarah, di masa Umar Bin Khattab dan Salahuddin Al-Ayyubi, saat itu Baitul Maqdis terbebas dan kiamat belum terjadi.
“Saya sudah 12 tahun tinggal di Gaza, 4 semester hidup dalam suasana perang. Saya lulus di Universitas Islam Gaza serta menyelesaikan diploma Israel Affairs. Ketika meletus serangan 7 Oktober, sebelumnya saya dengan teman-teman jurnalis sempat membahas tentang serangan ini, karena ketika perang ini terjadi, yang ditarget pertama kali oleh mereka adalah jurnalis. Saat ini, 260 lebih jurnalis kita syahid. Tapi dari Gaza, kita diajarkan dua prinsip, fainnahu lajihaad nasrun aw istisyhad, menang atau gugur di jalan perang.
Dalam kesempatan yang sama, KH Dr. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., MA mengajak umat Islam untuk menunjukkan konsistensi dalam mendukung Palestina.
“Kalau Zionist Israel tidak lelah dalam melancarkan agresinya terhadap saudara-saudara kita di sana, 3 tahun tanpa henti, meski ada gencatan senjata, tapi keadaan masih jauh dari yang kita harapkan. Maka, konsistennya Israel dalam menewaskan saudara-saudara kita harus lebih imbangi dengan semangat kita”.
Sementara itu, akademisi Prof. Heru Susetyo, S.H., LL. M., M.Si., M.Ag., Ph. D menyoroti aspek hukum internasional dan sikap dunia terhadap Palestina.
Sejak diblokade dan dijajah dari tahun 1948, Gaza membuktikan kepada dunia bagaimana hukum internasional itu tajam ke bawah tumpul ke atas. Kehadiran hak veto juga menelanjangi hukum yang berlaku. Makanya saya sepakat dengan aksi yang dilakukan teman-teman di Kedutaan Besar Amerika, untuk menekan keterlibatan mereka dalam membantai saudara-saudara kita di Gaza.
Kita baru memperingati hari Nakba 1948, Israel mengaku merdeka di atas kesedihan negara lain. Karena ada rakyat Arab Palestina di sana, bukan tanah kosong. Ibarat anak kos, sudah numpang ujung-ujungnya yang punya kosan ditendang. Nah, di Palestina dampaknya saat ini banyak pengungsi Palestina, Der Yasin salah satunya pembantaian pengungsi Palestina yang juga luput dalam berita internasional kala itu.
Kalau kita melihat fungsi PBB, sejarahnya ini berdiri karena dipicu Perang Dunia II. PBB markasnya di New York, kalau saya boleh usul jangan di sana, tapi dipindahkan saja ke Jenewa, karena visa dan semua proses hukum semau mereka.
Menutup pemaparannya, ia mengajak masyarakat Indonesia untuk tetap memberikan perhatian terhadap kondisi Palestina meskipun bangsa Indonesia juga menghadapi berbagai persoalan dalam negeri.
“Sebesar apa pun tantangan yang kita hadapi di dalam negeri, kita tidak boleh melupakan saudara-saudara kita di Palestina. Solidaritas dan kepedulian harus terus dijaga,” pungkasnya.


