HomeHeadlineGaza Sebelum dan Sesudah Pedang: Jejak Nabi, Umar, dan Tiga Tahun Pengepungan...

Gaza Sebelum dan Sesudah Pedang: Jejak Nabi, Umar, dan Tiga Tahun Pengepungan (595–637 M)

GAZA CITY — Sebelum menjadi kota yang direbut pasukan Muslim pada 637 Masehi, Gaza sudah lebih dulu masuk ke dalam jejak biografis dua tokoh sentral awal Islam: Nabi Muhammad dan Umar ibn al-Khattab. Keduanya tercatat memiliki hubungan dengan kota ini sebagai jalur dagang Quraisy Mekah ke Syam, jauh sebelum pedang dan pengepungan mengubah statusnya menjadi wilayah taklukan.

Artikel ini menelusuri bagaimana Gaza berpindah tangan dari Bizantium ke Kekhalifahan Rasyidin — sebuah proses yang memakan waktu jauh lebih lama daripada kesan sekilas yang sering muncul di ringkasan populer.

Jejak Dagang Muhammad: Klaim yang Perlu Diperjelas

Riwayat paling mapan tentang perjalanan dagang muda Muhammad untuk Khadijah — sekitar tahun 595 M, saat ia berusia sekitar 25 tahun — mencatat tujuannya adalah Busra (Bostra), kota di selatan Damaskus, dan bukan Gaza secara spesifik. Riwayat ini didukung sumber-sumber sirah klasik serta rujukan ensiklopedis modern seperti Britannica.

Sejumlah sumber populer, termasuk artikel yang dikutip Wikipedia versi bahasa Inggris (mengutip tulisan jurnalistik Dick Doughty, This Week in Palestine, 2006), menyebut Muhammad “mengunjungi kota ini lebih dari sekali sebelum menjadi nabi.” Namun klaim spesifik bahwa Gaza menjadi destinasi pribadi Muhammad tidak dikuatkan oleh sumber sirah primer seperti karya Ibn Ishaq, dan sejauh penelusuran redaksi, klaim ini berdiri di atas satu sumber jurnalistik sekunder. Yang lebih kuat dan konsisten secara historiografis adalah bahwa jalur kafilah Quraisy memang melewati wilayah Gaza sebagai salah satu titik akhir “Via Odorifera” (jalur rempah), sehingga hubungan keluarga Muhammad dengan kota ini lebih terverifikasi melalui kakek buyutnya, Hashim ibn Abd Manaf, yang wafat dan dimakamkan di Gaza sekitar 497 M saat berdagang di sana — sebagaimana telah dibahas dalam kolom sebelumnya.

Umar ibn al-Khattab, Pedagang Muda di Gaza

Klaim yang lebih kuat pijakannya menyangkut Umar ibn al-Khattab, khalifah kedua. Sejumlah catatan sejarah menempatkan Umar sebagai bagian dari kelompok pedagang Mekah yang berkegiatan di Gaza pada masa akhir kekuasaan Bizantium, sebelum ia memeluk Islam dan jauh sebelum menjadi kepala negara. Rincian lebih detail soal frekuensi dan durasi kunjungan dagangnya tidak terdokumentasi secara luas, tetapi keberadaannya di jalur dagang Hijaz–Gaza sejalan dengan pola umum perdagangan Quraisy pada masa itu.

Ironisnya, tokoh yang pernah berdagang di kota ini pada masa mudanya kelak menjadi khalifah yang memimpin penaklukan wilayah tersebut ke dalam kekuasaan Islam.

Pengepungan Tiga Tahun (634–637)

Penaklukan Gaza bukan peristiwa tunggal, melainkan proses bertahap yang dimulai jauh sebelum kota itu benar-benar jatuh. Setelah kemenangan pasukan Rasyidin atas Bizantium dalam Pertempuran Ajnadayn (Juli 634), yang menyusul insiden awal di Dathin (4 Februari 634), pasukan di bawah Amr ibn al-As — dibantu Khalid ibn al-Walid — mulai mengepung Gaza pada tahun yang sama.

Kemenangan di Ajnadayn memberi pasukan Muslim kendali atas sebagian besar pedesaan Palestina, tetapi belum atas kota-kota berbenteng dan bergarnisun seperti Gaza. Pengepungan berlangsung sekitar tiga tahun. Selama periode ini, komunitas Yahudi Gaza tercatat bertempur bersama garnisun Bizantium mempertahankan kota — sebuah detail yang menegaskan bahwa pertahanan kota bukan semata urusan agama tunggal, melainkan koalisi penduduk lokal dengan kekuasaan yang sedang bertahan.

Kota baru jatuh pada musim panas 637, setelah Umar menggantikan Abu Bakar sebagai khalifah dan memperkuat upaya penaklukan wilayah Bizantium. Pasukan Amr berhasil menembus pertahanan dan membunuh garnisun Bizantium, tetapi tidak menyerang penduduk sipil kota. Sumber sejarah mengaitkan keberhasilan ini pada kombinasi strategi militer, melemahnya kekuatan Bizantium, dan pengaruh penduduk Arab Gaza sendiri yang mendukung transisi kekuasaan.

Karena diyakini sebagai tempat pemakaman Hashim ibn Abd Manaf, kota ini tidak dihancurkan oleh pasukan penakluk — sebuah kebijakan yang berbeda dari perlakuan terhadap beberapa kota lain yang melawan lebih keras.

Gaza dalam Jund Filastin

Setelah penaklukan, Gaza dimasukkan ke dalam Jund Filastin (“distrik militer Palestina”), salah satu wilayah administratif di bawah provinsi Bilad al-Sham. Struktur ini bertahan hingga masa Umayyah dan Abbasiyah.

Mengenai ibu kota distrik pada masa Rasyidin, sumber-sumber tidak sepenuhnya sepakat. Sebagian besar sumber menyebut Ludd (Lydda) sebagai pusat administratif awal, sebelum kelak digantikan oleh Ramla yang dibangun pada masa Umayyah (sekitar 715 M). Namun ada pula catatan yang menyebut markas gubernur pertama Jund Filastin berada di Yerusalem. Panglima Alqama ibn Mujazziz al-Kinani tercatat menjabat gubernur atas separuh wilayah Jund Filastin pada masa Abu Bakar dan Umar, dengan Alqama ibn Hakim al-Kinani mengelola separuh lainnya — pembagian yang mencerminkan luasnya wilayah yang harus diatur pasca-penaklukan.

Untuk masa Utsman dan Ali, catatan sejarah spesifik mengenai Gaza sangat minim. Kekhalifahan pada periode itu lebih banyak disibukkan oleh gejolak politik internal di pusat kekhalifahan, dan Gaza tampaknya berjalan sebagai kota administratif kelas menengah tanpa peristiwa besar yang tercatat.

Warisan yang Bertahan

Perubahan paling nyata pasca-penaklukan adalah transformasi lanskap keagamaan kota: Katedral Yohanes Pembaptis, yang sebelumnya adalah Kuil Marnas, diubah menjadi Masjid Agung Gaza. Penduduk kota memeluk Islam relatif cepat dibanding wilayah pedesaan sekitarnya, dan bahasa Arab berangsur menjadi bahasa resmi.

Jejak periode ini — situs pemakaman Hashim di kawasan al-Daraj yang kini dikenal sebagai Masjid Sayyid Hashim, dan Masjid Agung Gaza yang berdiri di atas fondasi kuil pagan berabad-abad — mengalami kerusakan berat dalam perang 2023–2025. Kedua situs itu menjadi penanda fisik bahwa hubungan Gaza dengan sejarah awal Islam bukan sekadar catatan tekstual, melainkan warisan arsitektural yang hingga kini masih dapat ditelusuri di reruntuhan kota.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini