GAZA — Sedikitnya enam warga Palestina tewas dalam serangkaian serangan Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza pada Selasa (25/8/2026) kemarin waktu setempat. Serangan tersebut berlangsung di tengah gencatan senjata yang disebut mulai berlaku sejak Oktober tahun lalu.
Dikutip dari Middle East Monitor, enam korban termasuk tiga warga yang tewas dalam serangan terhadap sebuah rumah di Beit Lahia, Gaza utara. Sejumlah warga lainnya juga dilaporkan terluka dalam serangan tersebut.
Sumber medis dari Rumah Sakit Al-Shifa mengatakan tiga jenazah telah dibawa ke rumah sakit setelah sebuah rumah di kawasan Proyek Beit Lahia menjadi sasaran serangan Israel.
Sejumlah saksi mata menyebut rumah tersebut berada di sekitar Rumah Sakit Kamal Adwan. Jenis amunisi yang digunakan dalam serangan itu belum diketahui secara pasti.
Seorang warga Palestina tewas dalam serangan pesawat tanpa awak Israel di kawasan Al-Mawasi, menurut sumber medis yang dikutip Anadolu.
Pada hari yang sama, dua warga Palestina lainnya meninggal setelah sebelumnya terkena tembakan Israel. Seorang warga lainnya juga dilaporkan meninggal akibat luka yang dideritanya dalam penembakan Israel di sebelah barat Khan Younis pada Senin (24/8).
Satu korban lainnya meninggal akibat luka yang diderita dalam serangan Israel di kawasan Al-Amal, Khan Younis, beberapa hari sebelumnya.
Dengan demikian, enam kematian yang dilaporkan pada Selasa mencakup korban yang meninggal akibat serangan langsung maupun mereka yang sebelumnya mengalami luka dan kemudian meninggal.
Di tengah serangkaian serangan tersebut, sumber-sumber lokal melaporkan kendaraan militer Israel juga melepaskan tembakan ke arah rumah-rumah dan tenda yang menjadi tempat berlindung warga Palestina yang mengungsi di selatan Khan Younis.
Serangan artileri juga dilaporkan menyasar kamp pengungsi Bureij serta kawasan di sekitar Jembatan Wadi Gaza di Gaza tengah.
Sementara di Gaza utara, kendaraan militer Israel dilaporkan menembaki rumah-rumah warga Palestina di Beit Lahia bersamaan dengan rentetan tembakan artileri.
Laporan mengenai serangan di sejumlah wilayah tersebut menambah kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil yang masih bertahan di Gaza, terutama mereka yang kehilangan tempat tinggal dan terpaksa tinggal di tenda-tenda pengungsian.
Serangan terbaru terjadi meski gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober tahun lalu. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip Middle East Monitor, serangan Israel sejak gencatan senjata tersebut menyebabkan 1.296 warga Palestina tewas dan 4.296 lainnya terluka.
Jumlah korban jauh lebih besar jika dihitung sejak perang pecah pada Oktober 2023. Laporan tersebut menyebut lebih dari 73.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 174.000 lainnya terluka sejak awal konflik.
Serangkaian serangan ini juga berlangsung setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyerukan agar Israel menghentikan serangan di Gaza.
Dalam wawancara dengan Fox News pada 17 Agustus, Trump mengatakan Israel seharusnya tidak melakukan serangan di Gaza. Ia juga menyebut Hamas telah menyatakan kesediaannya untuk meletakkan senjata berdasarkan rencana perdamaian yang didukung Amerika Serikat.
Meski demikian, laporan mengenai serangan dan jatuhnya korban terus muncul dari berbagai wilayah Gaza. Kondisi tersebut menunjukkan rapuhnya situasi keamanan di Jalur Gaza dan masih tingginya risiko yang dihadapi warga sipil di tengah upaya mempertahankan gencatan senjata. (cky)


