HomeBeritaKapal Bantuan "Handala II" Berlayar dari Swedia Menuju Gaza, Solidaritas Nordik Tantang...

Kapal Bantuan “Handala II” Berlayar dari Swedia Menuju Gaza, Solidaritas Nordik Tantang Blokade Israel

GAZA CITY — Sebuah kapal bantuan kemanusiaan bernama “Handala II” memulai pelayarannya dari Swedia menuju Jalur Gaza pada awal pekan ini. Kapal yang dikelola gabungan Ship to Gaza Swedia, Denmark, dan Norwegia tersebut membawa pasokan kemanusiaan dan bertujuan menembus blokade laut Israel atas wilayah kantong Palestina yang dilanda krisis berkepanjangan.

Pelayaran ini merupakan inisiatif Nordik 2026 yang menyatukan tiga gerakan Ship to Gaza dari Denmark, Swedia, dan Norwegia di bawah satu misi: memecah blokade dan memperjuangkan hak rakyat Palestina atas tanah mereka. Nama “Handala” diambil dari karakter kartun ikonik karya kartunis Palestina Naji al-Ali yang menjadi simbol perlawanan rakyat Palestina sejak puluhan tahun lalu.

Rangkaian Misi Sebelumnya

Handala II adalah upaya terbaru dalam rangkaian pelayaran kemanusiaan yang digagas Freedom Flotilla Coalition (FFC). Pada Mei 2025, kapal “Conscience” diserang dua drone Israel di perairan 17 mil dari pesisir Malta, merusak generator dan melukai empat aktivis. Sebulan kemudian, “Madleen” yang membawa 12 aktivis—termasuk aktivis iklim Swedia Greta Thunberg dan anggota Parlemen Eropa asal Prancis Rima Hassan—dicegat dengan penggunaan gas kimia.

Pada 20 Juli 2025, kapal “Handala” pertama berangkat dari Gallipoli, Italia, dengan 21 partisipan dan juga dicegat di perairan internasional. Puncaknya, pada April–Mei 2026, Global Sumud Flotilla 2.0 dengan lebih dari 54 kapal sipil berlayar dari Marseille dan Barcelona, sebelum sebagian besar dicegat militer Israel di perairan dekat Siprus pada 18 Mei 2026.

Sikap Pemerintah Swedia

Pemerintah Swedia melalui Menteri Luar Negeri Maria Malmer Stenergard sebelumnya mempertanyakan efektivitas pelayaran flotilla, dengan menyebut bantuan darurat kemungkinan besar tidak akan mencapai mereka yang membutuhkan. Stenergard menekankan bahwa sejak Oktober 2023, Swedia telah memberikan bantuan kemanusiaan lebih dari 2 miliar SEK untuk Gaza, dan menjadi donor bilateral terbesar di Uni Eropa pada 2025. Pemerintah Swedia juga menggelontorkan paket bantuan tambahan 555 juta SEK pada Maret 2026 yang difokuskan pada anak-anak Gaza.

Bagi para aktivis Handala II, bantuan diplomatik resmi tidak dapat menggantikan tindakan langsung untuk menembus blokade laut yang menjadi simbol pembatasan akses kemanusiaan.

Situasi Gaza Memburuk

Pelayaran Handala II berlangsung di tengah memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza. Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) pada Rabu (3/6) memperingatkan bahwa Israel secara sistematis menyasar pegawai publik di Gaza, khususnya personel kepolisian. Sejak Januari 2026, OHCHR mencatat setidaknya 12 serangan terhadap aparat kepolisian yang menewaskan lebih dari 53 warga sipil—termasuk 35 personel kepolisian, lima anak laki-laki, dan satu perempuan. OHCHR menyebut pola ini berpotensi tergolong sebagai kejahatan perang.

Total korban tewas warga Palestina dalam konflik Gaza kini mencapai sekitar 72.797 jiwa berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza, mencakup lebih dari 270 jurnalis, 120 akademisi, serta lebih dari 560 pekerja kemanusiaan. Lebih dari 1,9 juta dari 2,4 juta warga Palestina di Gaza terusir dari rumah mereka, dengan sekitar 1,2 juta kehilangan tempat tinggal permanen. Sekitar 80 persen bangunan di Jalur Gaza dilaporkan rusak atau hancur total. Flash Appeal 2026 PBB dengan target lebih dari 4 miliar dolar AS hingga kini baru terdanai sekitar 13 persen.

Solidaritas Akademik dari Belgia

Gelombang solidaritas akademik menguat di Belgia. Surat terbuka yang ditandatangani lebih dari 10 persen profesor universitas di Belgia kini menyerukan pemutusan total seluruh kolaborasi akademik dengan institusi-institusi Israel.

Yang Menanti di Mediterania

Berdasarkan pola yang konsisten sejak 2024, hampir setiap kapal yang mencoba menembus blokade laut Israel telah dicegat di perairan internasional. Para aktivis Handala II menyadari risiko ini, namun tetap melaju. Bagi mereka, tujuan utama bukan semata-mata penyerahan bantuan secara fisik, melainkan menciptakan momen di mana dunia tidak bisa lagi mengabaikan blokade Gaza—menempatkan setiap pencegatan Israel sebagai berita global yang memaksa pemerintah, parlemen, dan masyarakat sipil dunia untuk bersikap.

Dalam beberapa hari ke depan, Handala II akan memasuki perairan yang menjadi panggung sejarah konflik ini.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler