HomeBeritaFarouk Ramadan Gugur Bela Tanah Palestina, Ayah Kenang Keberanian Putra dan Tiga...

Farouk Ramadan Gugur Bela Tanah Palestina, Ayah Kenang Keberanian Putra dan Tiga Keponakannya

NABLUS“Kami tidak takut… kami tidak akan meninggalkan rumah kami.” Itulah kalimat yang diucapkan warga Palestina, Ahmad Ramadan, saat mengantarkan jenazah putranya, Imran, yang gugur ditembak tentara pendudukan Israel dan para pemukim pada Jumat (24/7) di Desa Tal dilansir Al Jazeera Net. Menurutnya, tindakan itu merupakan bagian dari kebijakan pendudukan yang bertujuan mengusir warga Palestina dari tanah mereka.

Serangan brutal para pemukim terhadap Desa Tal, dekat Kota Nablus di utara Tepi Barat, berubah dari bentrokan fisik menjadi baku tembak dengan tentara Israel dan para pemukim bersenjata lengkap. Insiden tersebut mengakibatkan empat warga Palestina gugur dan dua warga Israel tewas, salah satunya seorang perwira militer.

Peristiwa itu bukan sekadar insiden sesaat, melainkan cerminan konflik berkepanjangan yang terus memburuk akibat kebijakan Yahudisasi Israel serta meningkatnya aksi kekerasan para pemukim dari hari ke hari.

Terjadi Dalam Sekejap

Imran Ramadan gugur bersama tiga sepupunya, yaitu Ibrahim Hussein Ali Ramadan, Jawad Hussein Ali Ramadan, dan Farouq Adnan Ali Ramadan, setelah bentrokan dengan para pemukim dan tentara Israel berubah menjadi baku tembak.

Dengan penuh keyakinan, Ahmad Ramadan, ayah Imran, berkata, “Kami tidak takut. Apa lagi yang bisa mereka lakukan? Apa pun yang mereka lakukan, kami tidak akan meninggalkan tanah kami.”

Sambil membuka kain penutup wajah putranya untuk memberikan penghormatan terakhir, Ahmad menceritakan apa yang terjadi.

“Ketika para pemukim menyerang desa dari arah barat daya, warga, termasuk anak-anak saya, bergegas menghadang mereka. Setelah itu saya hanya mengikuti perkembangan melalui rekaman video yang beredar di media sosial,” katanya.

Ia melanjutkan, “Anak saya yang lain mengendarai kendaraan roda tiga menuju lokasi, sementara saya kembali ke desa.”

Di kawasan Al-Qabali, tempat suara tembakan terdengar jelas oleh warga, peluru-peluru menghantam tubuh Imran dan ketiga sepupunya. Ahmad menggambarkan kejadian itu dengan kalimat singkat namun menyayat hati:

“Mereka menghujani mereka dengan peluru.”

Empat Syuhada Sekaligus

Belum lama Ahmad meninggalkan lokasi, ia menerima telepon yang memintanya segera menuju rumah sakit di Kota Nablus.

“Di sana saya mendapati putra saya Imran dan tiga keponakan saya telah gugur bersama,” ujar ayah yang berduka itu sambil berusaha menahan air mata di tengah kerumunan warga yang memenuhi halaman rumah sakit.

Bagi Ahmad, tragedi di Desa Tal bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Menurutnya, serangan para pemukim telah menjadi bagian dari keseharian yang dialami warga desanya, terutama mereka yang tinggal di sekitar kawasan Gunung Salman al-Farisi, tempat berdirinya permukiman ilegal Havat Gilad dan Yitzhar.

Ahmad mengatakan dirinya berkali-kali menjadi sasaran serangan para pemukim ketika sedang menggembalakan ternak.

“Mereka menyuruh saya pergi dari tempat itu. Saya selalu menjawab dengan heran, ‘Ini tanah saya, ini rumah saya. Ke mana lagi saya harus pergi?'” tuturnya.

Dengan nada tegas ia menambahkan,

“Kami tidak takut. Apa pun yang Allah tetapkan pasti terjadi. Sebesar apa pun yang mereka lakukan, kami tidak akan meninggalkan rumah kami.”

Pengepungan dan Penutupan Desa

Hingga kini, Desa Tal masih berada dalam situasi sulit setelah insiden tersebut.

Tentara Israel terus menyerbu desa dan hanya membuka akses jalan selama satu jam setelah tengah malam agar jenazah para syuhada dapat dibawa dan dimakamkan.

Izin itu pun disertai syarat-syarat ketat dari pihak Israel, di antaranya melarang prosesi pemakaman yang biasanya mengiringi pemakaman para syuhada serta membatasi jumlah anggota keluarga yang boleh hadir.

Setelah itu, tentara Israel menggerebek sejumlah rumah warga, menangkap puluhan penduduk, lalu membawa mereka ke sebuah rumah di kawasan Al-Lahf yang diubah menjadi pos militer.

Di lokasi tersebut, mereka menjalani interogasi lapangan dan banyak di antaranya mengalami pemukulan berat, menurut sumber-sumber dari Desa Tal kepada Al Jazeera.

Provinsi Nablus beserta sejumlah desa di sekitarnya juga mengalami pengetatan militer Israel. Pos-pos pemeriksaan ditutup dan berbagai jalan diblokade, sementara para pemukim melancarkan serangan ke sejumlah desa, terutama di selatan Nablus, seperti Urif, Madama, Jit, dan Tal.

Data Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina menunjukkan bahwa sepanjang paruh pertama 2026, tentara Israel dan para pemukim telah melakukan 11.074 serangan terhadap warga Palestina dan harta benda mereka.

Lembaga tersebut juga mencatat sedikitnya 20 warga Palestina tewas akibat tembakan para pemukim sejak awal tahun ini.

 

ARTIKEL TERKAIT

Terkini