HomeBaitul MaqdisUpaya Ubah Status Quo Al Aqsa, Kelompok Kuil Israel Serukan Penyerbuan pada...

Upaya Ubah Status Quo Al Aqsa, Kelompok Kuil Israel Serukan Penyerbuan pada Sabtu Mendatang

Al-Quds — Laporan dari WAFA pada Kamis (20/8) menyebutkan, Kelompok Kuil Israel hari ini menyerukan serbuan di Al-Quds yang diduduki pada Kamis mendatang, 27 Agustus 2026 menuntut agar Masjid Al-Aqsa kembali dibuka bagi para kolonis untuk melakukan penyerbuan pada hari Sabtu.

Gubernuran Al-Quds mengatakan dalam pernyataan singkat  kelompok-kelompok Kuil, bersama para rabi Yahudi, kepala sekolah agama, anggota Knesset, serta para menteri dalam pemerintahan Israel, menyerukan aksi protes di Al-Quds. Mereka menuntut agar Masjid Al-Aqsa kembali dibuka bagi para kolonis untuk melakukan penyerbuan pada hari Sabtu.

Diketahui sepekan sebelumnya, melaporkan dari The New Arab, para Ekstremis Yahudi berupaya mengikis status quo di Masjid Al-Aqsa. Pemukim ilegal Israel melaksanakan ritual Yahudi di Masjid Al-Aqsa pada Minggu (16/8) dengan persetujuan resmi dari otoritas Israel. Langkah tersebut menandai eskalasi besar dalam upaya mengikis status quo yang mengatur situs suci tersebut.

Ekstremis Yahudi secara rutin melakukan penyerbuan ke situs suci umat Islam itu. Namun, secara resmi mereka dilarang membawa buku doa dan melakukan ritual secara terbuka.

Polisi Israel mengatakan para pemeluk agama Yahudi diizinkan memasuki kompleks tersebut dengan membawa buku doa, atau siddurim, sesuai dengan instruksi dari kepemimpinan politik, demikian dilaporkan Haaretz pada Minggu.

Menteri Keamanan Nasional Israel dari kubu sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, yang mengawasi peningkatan penyerbuan pemukim ke Al-Aqsa, mengonfirmasi kepada The Jerusalem Post  para ekstremis Yahudi tersebut “diizinkan” memasuki kompleks dengan membawa buku doa mereka.

Aktivis pemukim Arnon Segal mengunggah foto-foto pelaksanaan doa tersebut di X dengan keterangan: “Pagi ini di Temple Mount: orang-orang Yahudi berdoa dengan siddurim. Belum ada izin menyeluruh, tetapi ini merupakan eksperimen awal yang bertujuan memastikan Timur Tengah tidak menjadi gila karena hal ini. Sejarah.”

Foto-foto tersebut memperlihatkan para pemukim Yahudi berdoa di lokasi itu dan membentangkan kain atau sajadah di tanah, yang mengindikasikan  mereka juga melakukan sujud.

Para pejabat Palestina dan perwakilan Wakaf Islam menggambarkan penyerbuan tersebut sebagai sebuah eskalasi dan penyimpangan dari pelanggaran-pelanggaran sebelumnya terhadap situs tersebut, yang dilakukan dengan persetujuan diam-diam dari otoritas Israel.

Berdasarkan kesepakatan Status Quo yang mengatur situs-situs suci di Al Quds, ibadah di Masjid Al-Aqsa secara eksklusif diperuntukkan bagi umat Islam. Sementara itu, umat Yahudi diperbolehkan berdoa di Tembok Buraq atau Tembok Barat (Western Wall).

Ekstremis Yahudi telah lama berupaya merusak kesepakatan tersebut dengan melakukan doa dan ritual di kompleks Al-Aqsa. Mereka juga memiliki rencana jangka panjang untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa guna membangun kuil Yahudi di lokasi tersebut.

Ben-Gvir, yang juga merupakan seorang pemukim, telah lama mendukung penyerbuan pemukim ke Al-Aqsa dan menyerukan aneksasi seluruh wilayah Tepi Barat yang diduduki.

4.200 Pemukim Israel Serbu Masjid Al-Aqsa di Al-Quds

Lebih dari 4.200 pemukim Israel dan anggota kelompok sayap kanan menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Al Quds Timur yang diduduki dalam salah satu penyerbuan terbesar sepanjang tahun ini saat mereka memperingati hari raya Yahudi, menurut pejabat Palestina.

Menteri Keamanan Nasional Israel dari kubu sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, juga memasuki kompleks tersebut dengan pengawalan ketat polisi pada Kamis dalam rangka Tisha B’Av, hari berkabung dalam tradisi Yahudi yang memperingati penghancuran dua kali sebuah kuil Yahudi kuno yang diyakini pernah berdiri di lokasi yang dikenal umat Islam sebagai Al-Aqsa dan umat Yahudi sebagai Temple Mount.

Pemerintahan Palestina di Gubernuran Al Quds mengatakan sebanyak 4.288 pemukim ilegal Israel telah memasuki kompleks tersebut sejauh ini.

Jumlah itu diperkirakan terus bertambah hingga matahari terbenam, bahkan mungkin mencapai 5.000 orang, kata gubernuran. Angka tersebut akan melampaui jumlah yang tercatat pada tahun-tahun sebelumnya selama peringatan hari raya Yahudi yang sama.

Pejabat Palestina mengatakan pasukan Israel memberlakukan pembatasan ketat di gerbang masjid, melarang sejumlah besar jemaah dan pelajar Palestina memasuki kompleks, serta menyerang beberapa jemaah.

Nour Odeh, koresponden Al Jazeera di Ramallah, Tepi Barat yang diduduki, mengatakan otoritas Israel telah “mengambil langkah-langkah ekstrem di Kota Tua” Al Quds, termasuk melarang semua warga Palestina kecuali warga lanjut usia memasuki kompleks Al-Aqsa serta memperketat pos pemeriksaan seperti di Qalandiya dan di sekitar Al Quds Timur.

Gubernuran Al Quds mengatakan pemukim Israel melakukan ritual Talmud di dalam kompleks, termasuk bersujud, bernyanyi, dan berdoa.

Media Israel melaporkan bahwa polisi mengizinkan lebih dari 1.000 warga Israel berdoa di lokasi tersebut pada Kamis. Meskipun non-Muslim diperbolehkan mengunjungi situs tersuci ketiga dalam Islam itu, mereka dilarang berdoa di sana berdasarkan kesepakatan yang berlaku sejak 1967.

Ben-Gvir mengatakan orang-orang Yahudi yang mengunjungi lokasi tersebut pada Tisha B’Av “merasa seperti pemiliknya”, sembari memuji apa yang disebutnya sebagai “kemajuan luar biasa” di sana, demikian dilaporkan surat kabar Haaretz.

“Provokasi yang Tidak Dapat Diterima”

Gubernuran Al Quds menggambarkan masuknya Ben-Gvir ke kompleks tersebut sebagai eskalasi berbahaya, dengan mengatakan bahwa tindakan itu mencerminkan dukungan resmi Israel terhadap aksi-aksi yang sebelumnya dikaitkan dengan kelompok-kelompok yang menyerukan pembangunan kembali kuil Yahudi di lokasi tersebut.

Kepresidenan Palestina menyebut penyerbuan tersebut sebagai “eskalasi berbahaya” yang bertujuan memberlakukan pembagian waktu dan ruang di kompleks tersebut. Mereka menegaskan bahwa kompleks Al-Aqsa tetap merupakan tempat ibadah yang secara eksklusif diperuntukkan bagi umat Islam, dan Israel tidak memiliki kedaulatan hukum atasnya.

Sejalan dengan kekhawatiran tersebut, Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam tindakan yang disebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.

Kelompok Palestina Hamas memperingatkan bahwa “tindakan agresi terang-terangan ini akan berbalik merugikan pendudukan dan para pemukimnya.”

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Yordania mengecam kunjungan Ben-Gvir dan menyebutnya sebagai “penodaan kesucian masjid, eskalasi, tindakan barbar, dan provokasi yang tidak dapat diterima.”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Yordania, Duta Besar Fouad Majali, memperingatkan bahwa tindakan semacam itu melanggar status quo historis dan hukum yang berlaku di situs tersebut.

Amman mendesak masyarakat internasional untuk menekan Israel agar menghentikan apa yang disebutnya sebagai pelanggaran yang terus berlangsung terhadap situs-situs suci Islam dan Kristen di Al Quds.

Odeh dari Al Jazeera mengatakan keterlibatan tokoh-tokoh dari Partai Likud yang berkuasa di Israel menandai “pergeseran politik mendasar”, ketika pejabat Palestina dan Muslim berpendapat bahwa seruan untuk membangun kembali kuil di lokasi tersebut kini “didukung oleh tokoh-tokoh penting dalam pemerintahan dan parlemen Israel.”

Odeh mengatakan penyerbuan tersebut diperkirakan berlanjut hingga Jumat dan “dapat memicu konfrontasi lebih lanjut”, mengingat salat Jumat di kompleks tersebut biasanya dihadiri ribuan jemaah.

Sebelumnya, Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mengecam seruan untuk melakukan penyerbuan sebagai “eskalasi berbahaya” yang bertujuan mengubah status quo historis dan hukum di situs tersebut. Kementerian itu juga mendesak masyarakat internasional menekan Israel agar menghentikan aksi tersebut.

Israel menduduki Al Quds Timur dalam perang Arab-Israel 1967 dan mencaploknya pada 1980. Langkah tersebut tidak diakui oleh masyarakat internasional. (ofr)

ARTIKEL TERKAIT

Terkini