Namanya Yusuf, dan ia percaya langit adalah satu-satunya tempat yang belum hancur.
Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya bangun, ia menyusuri jalan yang dulu bernama Jalan Zaitun—meski sekarang tak ada satu pun pohon zaitun yang tersisa untuk membuktikan nama itu pernah benar. Di antara reruntuhan beton yang menyerupai gigi-gigi patah raksasa, Yusuf mencari kertas. Kertas apa saja. Bungkus tepung, halaman buku yang sobek, kardus bantuan yang sudah kosong.
Ia butuh kertas untuk layangannya.
“Untuk apa kau kumpulkan sampah itu?” tanya Ummu Khalil suatu pagi, perempuan tua yang tendanya bersebelahan dengan tenda keluarga Yusuf. Suaranya serak dan tajam, seperti orang yang sudah lelah bersabar. “Anak-anak zaman sekarang. Kertas tidak bisa dimakan, Nak.”
“Bukan sampah, Ummu. Ini bahan,” jawab Yusuf, sambil merapikan lipatan kardus di tangannya. “Ayah bilang, sebelum perang, ia dulu juara membuat layangan di kampungnya. Layangannya bisa terbang paling tinggi, sampai tak terlihat lagi.”
Ummu Khalil mendengus, tapi matanya melunak sedikit. “Ayahmu di mana sekarang, Nak?”
Yusuf tidak menjawab. Ia hanya menunduk, lalu melanjutkan mengumpulkan kertas, seolah pertanyaan itu adalah angin yang lewat begitu saja—terasa, tapi tak perlu ditanggapi.
Butuh tiga hari bagi Yusuf mengumpulkan cukup kertas. Dua hari lagi untuk mencari batang kayu yang lurus—ia menemukannya dari bingkai foto yang sudah tak berisi foto, hanya pecahan kaca dan bingkai kayu yang masih utuh.
Yang paling sulit adalah benang.
Ia tidak punya benang gulung. Satu-satunya benang yang cukup panjang di tenda mereka adalah gulungan benang jahit ibunya—benang terakhir, disimpan untuk menambal jaket musim dingin sebelum cuaca berubah dingin sungguhan.
Malam itu Yusuf duduk lama menatap gulungan benang itu di sudut tenda. Ia tahu ibunya membutuhkannya. Ia juga tahu, jika ia memakainya sekarang dan layangannya putus atau hilang, tidak akan ada gantinya—tidak ada toko benang di kamp pengungsian, tidak ada uang untuk membelinya meski toko itu ada.
Ia bisa saja berhenti. Menyimpan mimpi layangan itu untuk waktu yang “lebih tepat”—waktu yang, ia tahu dalam hati, mungkin tidak akan pernah datang.
Tangannya gemetar sedikit saat ia mengambil gulungan benang itu diam-diam sebelum ibunya bangun, menyisakan cukup untuk satu tambalan kecil, dan menyembunyikan sisanya di balik bajunya.
Sore itu, ketika warna langit mulai berubah jingga, Yusuf berdiri di puncak gundukan puing yang dulunya adalah sekolah dasarnya. Angin bertiup kencang, membawa bau debu bercampur asin—entah dari laut yang jauh, atau dari sisa bahan bakar yang masih terbakar di suatu tempat.
Ia melepas layangannya ke udara.
Layangan itu tersendat-sendat pada awalnya, seperti burung yang lupa caranya terbang. Angin yang terlalu kencang justru membuatnya oleng, hampir menghantam tumpukan besi berkarat. Yusuf berlari menyusuri puing yang tajam, telapak kakinya beralaskan sandal jepit yang sudah nyaris putus, menarik dan mengulur benang sesuai ingatan dari video lama di ponsel pamannya—video ayahnya, muda dan tertawa, menerbangkan layangan di pantai yang kini entah sudah berapa kali dibom.
Benang jahit itu tipis. Terlalu tipis. Sempat berdecit tajam di jari-jarinya, hampir putus saat satu embusan angin besar datang menerjang.
Yusuf tidak melepaskannya.
Ia menggenggam erat, membiarkan benang itu menggores telapak tangannya, dan menariknya kembali pelan-pelan—persis seperti yang dikatakan ayahnya dahulu, bahwa layangan yang baik bukan ditentukan oleh seberapa kuat anginnya, tapi seberapa sabar tangan yang menahannya.
Dan kemudian, layangan itu naik.
Ia naik melewati puing-puing, melewati kabel listrik yang menjuntai seperti sulur mati, melewati atap-atap tenda, terus naik hingga warnanya—merah dari bungkus tepung PBB—menjadi titik kecil di langit yang mulai gelap.
Satu per satu, anak-anak lain keluar dari tenda mereka. Mereka berdiri, mendongak, menatap ke atas dengan mulut sedikit terbuka. Seorang anak perempuan kecil bertepuk tangan. Seorang anak lelaki yang biasanya tidak pernah tersenyum sejak kehilangan tangan kanannya di reruntuhan rumahnya, tersenyum—benar-benar tersenyum, untuk pertama kalinya yang bisa diingat siapa pun.
“Terbang, Yusuf! Terbang lebih tinggi!” seru mereka.
Ummu Khalil berdiri di depan tendanya, tangan di dada, matanya berkaca-kaca menatap titik merah yang melayang di antara awan. Untuk sesaat, wanita yang biasanya sinis itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap, seolah menemukan kembali sesuatu yang lama hilang darinya.
Untuk beberapa menit yang aneh dan rapuh, kamp pengungsian itu tidak lagi hanya berisi debu dan tenda dan luka. Ia berisi anak-anak yang menunjuk ke langit, tertawa, dan berteriak nama seorang bocah yang berhasil membuat sesuatu—benar-benar sesuatu—dari puing-puing.
Malamnya, saat langit sudah gelap dan layangan telah diturunkan serta disimpan hati-hati di sudut tenda, Yusuf berbaring di samping ibunya. Telapak tangannya masih perih bekas gesekan benang. Ia menyembunyikannya di balik selimut.
“Ummi,” katanya pelan, “apa Ayah bisa lihat layanganku, dari mana pun ia sekarang?”
Ibunya diam sejenak—diam yang cukup lama hingga Yusuf sempat takut ia sudah tertidur, atau lebih buruk, sedang menangis diam-diam. Lalu ibunya menarik Yusuf lebih dekat, mendekap kepalanya yang penuh debu, dan tangannya menyentuh telapak tangan Yusuf yang lecet.
Ia tidak bertanya soal benang jahit yang hilang. Ia hanya menggenggam erat tangan anaknya yang terluka, seolah itu adalah jawaban yang cukup.
“Ayahmu selalu bilang,” jawab ibunya akhirnya, suaranya nyaris berbisik, “bahwa layangan yang terbang paling tinggi adalah yang benangnya dipegang oleh tangan yang tidak pernah menyerah menariknya kembali—meski tangan itu terluka karenanya.”
Yusuf memejamkan mata. Di luar tenda, angin masih bertiup, dan entah bagaimana, ia membayangkan layangannya masih di sana, tinggi di atas segalanya, menjaga langit tetap menjadi satu-satunya tempat yang belum hancur.
Esok pagi, sebelum subuh benar-benar datang, seseorang akan menemukan sepucuk surat terselip di antara reruntuhan Jalan Zaitun—surat yang ditulis bertahun-tahun lalu, ditujukan untuk seorang anak yang belum lahir saat surat itu ditulis.


