GAZA CITY — Gaza jatuh ke tangan Kekaisaran Ottoman dalam hitungan minggu setelah Mamluk kalah telak di utara Suriah pada Agustus 1516. Namun kendali penuh atas kota itu baru benar-benar terkunci setelah pertempuran susulan di Khan Yunis pada penghujung tahun yang sama.
Peralihan itu bagian dari Perang Ottoman-Mamluk (1516–1517), konflik yang mengakhiri kekuasaan Mamluk atas Gaza yang telah berlangsung sejak 1277. Kecepatan kejatuhannya tidak semata soal kekuatan senjata, melainkan juga hasil perpecahan di dalam kubu Mamluk sendiri — sesuatu yang terbukti menentukan jauh sebelum pasukan Ottoman mencapai Gaza.
Sebelum berhadapan dengan Mamluk, Selim I baru saja mengalahkan Persia Safawi di Pertempuran Chaldiran (1514). Perhatiannya kemudian beralih ke selatan, ke arah Suriah yang saat itu berada di bawah kekuasaan Mamluk.
Pengkhianatan di Marj Dabiq
Perang bermula dari sengketa Sultan Selim I dengan Kadipaten Dulkadir di Anatolia tenggara, yang berada di bawah perlindungan Mamluk. Ketegangan itu berkembang menjadi konfrontasi terbuka antara dua kekuatan Muslim terbesar di Timur Tengah saat itu.
Pertempuran yang menentukan terjadi di Marj Dabiq, dekat Aleppo, pada 24 Agustus 1516. Pasukan Ottoman mengandalkan senapan dan meriam yang dioperasikan secara sistematis oleh infanteri Janissari — sesuatu yang belum ditandingi kubu Mamluk, yang budaya militer elitenya masih berpusat pada kavaleri berkuda dengan pedang dan panah.
Faktor lain yang sama menentukannya adalah pengkhianatan. Gubernur Aleppo untuk Mamluk, Hayır Bey, yang sebelumnya diam-diam sudah menjalin kontak dengan pihak Ottoman, memerintahkan mundur sayap kiri pasukannya di tengah pertempuran sekaligus menyebarkan kabar bahwa Sultan Qansuh al-Ghawri telah tewas. Pasukan Mamluk kocar-kacir; Qansuh al-Ghawri sendiri wafat dalam kekacauan itu — sumber-sumber sezaman berbeda pendapat, sebagian menyebut ia jatuh dari kuda karena terkejut oleh tembakan meriam, sebagian lain menyebut ia dipenggal setelah ditemukan di medan perang.
Kekalahan di Marj Dabiq membuka jalan bagi Ottoman menguasai seluruh Suriah nyaris tanpa perlawanan berarti. Ottoman memasuki Aleppo pada 28 Agustus, lalu bergerak ke selatan: Hama menyerah 19 September, Homs 21 September, dan Damaskus dimasuki pada 27 September–3 Oktober. Para bangsawan Mamluk yang sempat berkumpul di Damaskus untuk memilih sultan baru pengganti Qansuh al-Ghawri justru membubarkan diri tanpa keputusan dan melarikan diri ke Kairo.
Jalan Cepat Menuju Gaza
Gaza yang didatangi pasukan Ottoman saat itu bukan kota yang makmur. Setelah lebih dari dua abad menjadi ibu kota administratif Palestina selatan di bawah Mamluk, kota ini telah menyusut menjadi kota kecil dengan pelabuhan yang nyaris tak berfungsi dan sejumlah bangunan rusak — dampak dari pajak berat dan ketidakstabilan pada masa-masa akhir kekuasaan Mamluk.
Dari Damaskus, Selim I mengirim sekitar 2.000 pasukan berkuda di bawah İsabeyzade Mehmed Bey menuju Jalur Gaza. Pasukan Ottoman mengambil alih kota itu sekitar akhir Oktober hingga awal November 1516 — sumber berbeda mencatat tanggal 28 Oktober maupun 7 November sebagai hari masuknya pasukan Ottoman untuk mengusir sisa garnisun Mamluk.
Pendudukan itu berlangsung nyaris tanpa perlawanan berarti. Sejumlah catatan menyebut sempat terjadi pemberontakan kecil di dalam kota — pola serupa juga terjadi di Ramla dan Safad — namun segera dipadamkan pasukan Ottoman. Penduduk Gaza sendiri, yang telah lama menanggung pajak berat dan ketidakstabilan di bawah pemerintahan Mamluk yang melemah, secara umum tidak melawan; sebagian bahkan menyambut penguasa baru yang sesama Sunni.
Upaya Terakhir di Khan Yunis
Jatuhnya Gaza tidak langsung diterima Kairo. Setelah kematian Qansuh al-Ghawri, Mamluk mengangkat Tuman Bay II sebagai sultan baru pada 17 Oktober 1516. Tuman Bay mengirim Janbirdi al-Ghazali — sebelumnya wakil gubernur Hama untuk Mamluk — dengan pasukan besar untuk merebut kembali Gaza, dengan harapan menahan laju Ottoman sebelum mencapai Mesir.
Pasukan Ottoman di bawah Wazir Agung Hadım Sinan Pasha menghadang mereka di Khan Yunis, selatan Gaza, dalam pertempuran yang berlangsung sekitar pertengahan hingga akhir Desember 1516 — sekitar dua bulan setelah pendudukan awal Gaza. Senapan dan artileri Ottoman kembali menentukan hasil pertempuran, seperti sebelumnya di Marj Dabiq. Al-Ghazali terluka dan mundur ke Kairo bersama sisa pasukannya.
Akhir Kesultanan Mamluk
Kekalahan di Khan Yunis menutup peluang terakhir Mamluk mempertahankan Palestina. Selim I melanjutkan pawainya melintasi Gurun Sinai dengan ribuan unta pembawa air, senapan, dan artileri lapangan, lalu mengalahkan pasukan Tuman Bay di Pertempuran Ridaniya, utara Kairo, pada 22 Januari 1517.
Tuman Bay sempat melarikan diri dan melakukan perlawanan gerilya di sekitar Kairo, tetapi akhirnya tertangkap dan dieksekusi dengan cara digantung di Gerbang Bab Zuweila, Kairo, pada April 1517. Dengan itu, kekuasaan Mamluk yang telah berlangsung lebih dari dua abad — termasuk atas Gaza sejak 1277 — berakhir sepenuhnya.
Gaza selanjutnya ditetapkan sebagai sanjak (distrik) tersendiri di bawah Eyalet Damaskus, salah satu dari lima sanjak yang membagi wilayah Palestina bersama Safad, Nablus, Yerusalem, dan Lajjun. Sebagian besar susunan administratif peninggalan Mamluk dipertahankan; para elite lokal dan sistem waqf tetap berjalan, sementara loyalitas politik berpindah ke Istanbul. Status itu menjadi fondasi bagi hampir empat abad pemerintahan Ottoman di Gaza, yang baru berakhir pada 1917.
Dua tokoh yang berperan besar dalam kekalahan Mamluk justru berakhir menjadi bagian dari sistem baru itu. Hayır Bey, pengkhianat di Marj Dabiq, diangkat Selim I sebagai gubernur Ottoman pertama untuk Mesir (1517–1522). Janbirdi al-Ghazali, yang terluka di Khan Yunis, belakangan justru diangkat sebagai gubernur Ottoman pertama untuk Damaskus pada 1519 — sebelum akhirnya memberontak dan tewas dua tahun kemudian.


