HomeBaitul MaqdisDari Klinik di Rafah ke Medan Tempur: Sejarah Gerakan Jihad Islam Palestina

Dari Klinik di Rafah ke Medan Tempur: Sejarah Gerakan Jihad Islam Palestina

GAZA CITY — Palestinian Islamic Jihad (PIJ), atau dalam bahasa Arab Harakat al-Jihad al-Islami fi Filastin, lahir pada 1981 dari kekecewaan sekelompok mahasiswa Palestina di Mesir terhadap Ikhwanul Muslimin. Empat dekade kemudian, organisasi ini tumbuh menjadi kekuatan bersenjata kedua terbesar di Jalur Gaza setelah Hamas, dan menjadi salah satu aktor kunci dalam serangan 7 Oktober 2023 yang memicu perang paling mematikan dalam sejarah modern Gaza.

Artikel ini menelusuri asal-usul, ideologi, dan lintasan kekerasan PIJ — dari klinik kesehatan di Kairo hingga jalan-jalan reruntuhan Gaza pascagencatan senjata 2025.

Dari Kairo ke Gaza: Kelahiran Sebuah Gerakan

Fathi Ibrahim Abd al-Aziz Shaqaqi lahir pada 4 Januari 1951 di kamp pengungsi al-Shati, Gaza, dari keluarga yang terusir dari Zarnuqa pada 1948. Ia belajar matematika di Universitas Birzeit sebelum melanjutkan studi kedokteran di Universitas Zaqaziq, Mesir, tempat ia bergabung dengan Ikhwanul Muslimin.

Di Mesir, Shaqaqi terpengaruh oleh Revolusi Iran 1979. Ia menulis buku “Khomeini: Solusi Islam dan Alternatif”, yang terjual 10.000 eksemplar dalam dua hari sebelum dilarang pemerintah Mesir. Bersama Syekh Abd al-Aziz Awda, seorang dai asal kamp pengungsi Jabaliya, dan beberapa rekan lain termasuk Ramadan Shalah, Shaqaqi membentuk kelompok inti yang kelak menjadi PIJ, dengan cikal bakal terbentuk sekitar 1980.

Perbedaan mendasar kelompok ini dengan Ikhwanul Muslimin adalah soal urutan perjuangan. Ikhwan meyakini pembebasan Palestina baru bisa terjadi setelah negara Islam berdiri lebih dulu. Shaqaqi dan koleganya membalik logika itu — jihad bersenjata harus dimulai segera, tanpa menunggu. Pergeseran inilah yang oleh sejarawan disebut sebagai transformasi dari “Islamisme politik” menjadi “Islam jihadis” di Palestina.

Shaqaqi dan Awda diusir dari Mesir pada 1981 menyusul pembunuhan Presiden Anwar Sadat, karena kecurigaan keterkaitan dengan jaringan ekstremis di baliknya — meski keduanya tidak terlibat langsung. Shaqaqi kembali ke Gaza pada November 1981 dan mulai membangun gerakan bersama rekan-rekan yang telah lebih dulu tiba.

Membangun Sayap Bersenjata

Sepanjang 1980-an, PIJ beroperasi sebagai gerakan bawah tanah kecil, jauh lebih ramping dibanding Ikhwanul Muslimin atau kelak Hamas. Shaqaqi ditangkap dan dipenjara Israel pada 1983 dan 1986 atas aktivitas politiknya. Sel-sel rahasia mulai disiapkan untuk perjuangan bersenjata sejak 1984.

Pada Agustus 1988, di tengah gejolak Intifada Pertama, Israel mendeportasi Shaqaqi dan sejumlah pemimpin PIJ ke Libanon Selatan. Dari pengasingan itulah PIJ membangun sayap militernya. Ziyad al-Nakhalah — kelahiran Khan Yunis 1953, yang ayahnya tewas dalam pembantaian Khan Yunis 1956 — ditugaskan mendirikan struktur militer PIJ di Gaza pada pertengahan 1980-an dengan nama awal “Pasukan Jihad Islam”. Struktur ini diformalkan sebagai Al-Quds Brigades (Saraya al-Quds) sekitar 1992, dan nama itu populer luas sejak Intifada Kedua pada 2000.

Shaqaqi sendiri menetap di Damaskus setelah pengasingan, tempat PIJ membangun hubungan erat dengan rezim Suriah dan, yang jauh lebih menentukan, dengan Iran. Sejak awal berdirinya, PIJ secara terbuka menyatakan diri terinspirasi oleh Revolusi Iran, dan Teheran menjadi pemasok dana dan senjata utamanya hingga hari ini.

Pembunuhan di Malta

Pada 26 Oktober 1995, Shaqaqi terbunuh di depan Diplomat Hotel, Sliema, Malta, ditembak enam kali oleh dua agen dari unit Mossad yang sebelumnya juga terlibat dalam pembunuhan insinyur Kanada Gerald Bull dan penasihat intelijen PLO Atef Bseiso. Shaqaqi baru kembali dari Tripoli, tempat ia menemui pemimpin Libya Muammar Khadafi untuk meminta bantuan pendanaan.

Menurut investigasi jurnalis Israel Ronen Bergman, Perdana Menteri Yitzhak Rabin memerintahkan pembunuhan itu setelah bom bunuh diri Beit Lid pada Januari 1995 yang menewaskan puluhan tentara Israel — serangan yang dikaitkan dengan PIJ. Jenazah Shaqaqi dibawa ke Damaskus dan dimakamkan di kamp pengungsi Yarmouk; sekitar 40.000 orang menghadiri pemakamannya.

Kematian Shaqaqi sempat melemahkan PIJ untuk beberapa tahun. Ramadan Shalah, salah satu pendiri awal, menggantikannya sebagai sekretaris jenderal hingga 2018, saat kesehatannya menurun akibat stroke. Ziyad al-Nakhalah kemudian terpilih memimpin organisasi pada September 2018 dan masih menjabat hingga kini.

Al-Quds Brigades dan Eskalasi Kekerasan

Sepanjang 1990-an hingga 2000-an, Al-Quds Brigades bertanggung jawab atas serangkaian bom bunuh diri dan serangan roket terhadap Israel, menjadikan PIJ sebagai organisasi yang ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat sejak 1997, disusul Uni Eropa, Inggris, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan Israel.

Berbeda dari Hamas, PIJ tidak memiliki sayap sosial-politik yang mengelola sekolah, klinik, atau ikut pemilu. Fokusnya nyaris eksklusif pada perjuangan militer, dan organisasi ini secara konsisten menolak proses negosiasi maupun kesepakatan damai apa pun dengan Israel, termasuk Kesepakatan Oslo.

Pada Agustus 2014, komandan Al-Quds Brigades wilayah utara Gaza, Daniel Mansour, tewas dalam serangan Israel di tengah perang Gaza. Penggantinya, Baha Abu al-Ata, terbunuh bersama istrinya dalam serangan rudal Israel di lingkungan Shejaiya, Gaza City, pada 12 November 2019 — hanya berselang dua hari setelah Naftali Bennett dilantik sebagai Menteri Pertahanan Israel. Israel menyebut Abu al-Ata sebagai “bom waktu” yang tengah merencanakan serangan lanjutan atas perintah Iran. Kematiannya memicu dua hari baku tembak roket antara PIJ dan Israel yang menewaskan puluhan warga Gaza.

7 Oktober dan Setelahnya

Menurut penilaian intelijen Amerika Serikat, militan PIJ turut serta bersama ratusan pejuang Hamas dalam serangan 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyandera lebih dari 240 orang. Sejumlah sandera yang diambil pada hari itu ditahan langsung oleh Al-Quds Brigades, terpisah dari fasilitas Hamas — sebuah fakta yang berulang kali disebut dalam negosiasi pembebasan sandera pada 2024–2025.

Selama perang berikutnya, sejumlah komandan senior Al-Quds Brigades tewas dalam serangan Israel, termasuk tiga pejabat sayap militer pada Mei 2023 (sebelum 7 Oktober) dan berbagai pemimpin lapangan lainnya sepanjang 2023–2024. Operasi militer Israel disebut sejumlah lembaga riset telah “melemahkan sebagian” kapasitas PIJ, meski organisasi ini tetap menjadi kekuatan bersenjata terbesar kedua di Gaza setelah Hamas.

Jaringan PIJ juga meluas ke Tepi Barat. Sayap Al-Quds Brigades di Ramallah, yang dibentuk sejak 6 Oktober 2023 dan mulai aktif beroperasi pada September 2025, menjadi salah satu contoh perluasan kehadiran militer PIJ di luar Gaza pascaperang.

Pascagencatan Senjata: Antara Perlucutan Senjata dan Ketidakpastian

Gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober 2025, didasarkan pada Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 (17 November 2025), menetapkan perlucutan senjata seluruh kelompok bersenjata di Gaza, termasuk PIJ, sebagai syarat penarikan penuh pasukan Israel dan pembentukan pemerintahan transisi di bawah Board of Peace pimpinan Donald Trump.

Menjelang akhir 2025, sumber-sumber Arab yang dikutip media Saudi melaporkan PIJ telah menyetujui rencana perlucutan senjata tersebut, menyusul persetujuan serupa dari Hamas. Namun hingga pertengahan 2026, implementasi rencana ini masih diliputi ketidakpastian: laporan Board of Peace pada Mei 2026 mencatat kelompok-kelompok bersenjata di Gaza — termasuk Hamas — belum benar-benar melucuti senjata mereka, sementara Israel terus memperluas wilayah yang dikuasainya di dalam Jalur Gaza.

PIJ, yang kini dipimpin dari pengasingan setelah basis lamanya di Damaskus goyah pascajatuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024, tetap menjadi salah satu variabel penting dalam menentukan apakah gencatan senjata Gaza akan bertahan sebagai penyelesaian jangka panjang atau sekadar jeda sementara dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari empat dekade sejak Fathi Shaqaqi mendirikan gerakan ini di sebuah klinik kesehatan jauh dari Gaza.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini