GAZA CITY — Sepanjang hidup Nabi Muhammad (570–632 M), Gaza bukan bagian dari dunia Arab yang ia diami di Mekkah dan Madinah. Kota ini berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Bizantium, sebagai wilayah provinsi Palaestina Prima, dan baru jatuh ke tangan Muslim lima tahun setelah Nabi wafat — pada 637 M, sebagaimana telah dibahas dalam kolom sejarah sebelumnya. Namun demikian, Gaza memiliki keterkaitan tidak langsung dengan silsilah dan jaringan dagang keluarga Nabi, yang sering disederhanakan atau dilebih-lebihkan dalam narasi populer.
Silsilah yang Bermula 73 Tahun Sebelum Nabi Lahir
Keterkaitan Gaza dengan keluarga Nabi Muhammad berakar pada sosok Hashim ibn Abd Manaf, kakek buyutnya (great-grandfather), yang meninggal di Gaza sekitar tahun 497 M — sekitar 73 tahun sebelum Muhammad lahir. Menurut tradisi Muslim, Hashim wafat setelah jatuh sakit dalam perjalanan pulang dari Syam, di Gaza, Palaestina Prima, pada 497 M. Menurut tradisi tersebut, makam Hashim terletak di bawah kubah Masjid Sayyid Hashim di kawasan al-Daraj, Gaza, sebuah bangunan yang menurut catatan sejarah baru dibangun sekitar abad ke-12 — jauh setelah masa hidup Hashim sendiri. WikipediaWikipedia
Hashim dikenal sebagai perancang sistem dua perjalanan dagang musiman suku Quraysh: perjalanan musim dingin antara Yaman dan Mekkah, dan perjalanan musim panas antara Palestina dan Mekkah. Gaza, sebagai kota pelabuhan dagang di ujung utara Semenanjung Arab, menjadi salah satu titik akhir dari jalur dagang musim panas tersebut — status yang telah dimilikinya sejak era Firaun dan berlanjut hingga masa Romawi-Bizantium. Literature and History
Koreksi: Ayah Nabi Wafat di Madinah, Bukan Gaza
Salah satu kekeliruan yang sering beredar dalam narasi populer adalah anggapan bahwa Abdullah ibn Abd al-Muttalib, ayah kandung Nabi Muhammad, wafat di Gaza. Klaim ini tidak didukung oleh sumber-sumber sirah (biografi Nabi) klasik. Abdullah dipanggil untuk melakukan perjalanan dagang ke Syam. Ketika ia berangkat, Aminah sedang hamil. Ia menghabiskan beberapa bulan di Gaza, dan dalam perjalanan pulang ia singgah lebih lama untuk beristirahat bersama keluarga neneknya, Salma bint Amr, dari klan Najjar suku Khazraj di Madinah. Wikipedia
Abdullah bersiap bergabung kembali dengan kafilah menuju Mekkah ketika ia jatuh sakit. Kafilah tersebut melanjutkan perjalanan tanpa dirinya dengan membawa kabar tentang sakitnya. Ia meninggal di Madinah, bukan di Gaza — sebuah detail yang dikuatkan oleh sumber genealogis independen. Abdullah meninggal dalam perjalanan kafilah antara Madinah dan Mekkah akibat sakit, pada usia sekitar 25 tahun, dan menurut catatan lain, Abdullah dikatakan wafat dalam perjalanan pulang dari perjalanan dagang di al-Sham (wilayah Palestina/Syam) saat beristirahat di Madinah. Gaza hanya menjadi salah satu persinggahan dalam perjalanan itu, bukan tempat wafatnya. Wikipedia + 2
Jejak Perjalanan Dagang Muhammad Sendiri: Sejauh Mana ke Gaza?
Nabi Muhammad tercatat melakukan dua perjalanan dagang besar ke utara semasa mudanya: pertama pada usia 12 tahun bersama pamannya Abu Talib, dan kedua pada usia 25 tahun sebagai wakil dagang Khadijah binti Khuwailid. Kedua perjalanan ini, menurut sumber-sumber sirah, mencapai kota Busra (Bostra) di selatan Suriah — tempat Muhammad bertemu rahib Kristen bernama Bahira — bukan secara eksplisit Gaza.
Muhammad melanjutkan perjalanan panjang itu hingga mencapai Busra pada jalur menuju Damaskus kuno, setelah kurang lebih sebulan perjalanan. Sumber yang sama mencatat konteks regional yang relevan: kafilah dagang Arab kerap melanjutkan perjalanan ke Damaskus dan Gaza, meski hanya sedikit yang mencapai pesisir Mediterania. Dengan kata lain, Gaza berada dalam jangkauan rute dagang Quraysh secara umum, tetapi tidak ada catatan sirah primer yang secara spesifik menyebut Muhammad pribadi menginjakkan kaki di Gaza. Klaim bahwa Nabi “pernah ke Gaza” beredar luas di kalangan populer, namun sumber yang tersedia belum bisa memverifikasi klaim ini secara pasti — sehingga perlu dinyatakan secara eksplisit bahwa detail ini tidak terverifikasi. Al-Islam.orgAl-Islam.org
Gaza di Bawah Bizantium: Perang dengan Persia dan Ayat Ar-Rum
Selama masa kenabian Muhammad di Mekkah (610–622 M), Gaza dan seluruh Palaestina Prima mengalami gejolak politik akibat perang Bizantium–Sassania. Provinsi ini untuk sementara jatuh ke tangan Kekaisaran Sassania (Persia) pada 614, namun direbut kembali pada 628. Penaklukan Persia atas Yerusalem pada 614 bahkan disebut dalam Al-Qur’an — peristiwa yang terjadi sezaman dengan awal masa kenabian. Wikipedia
Jatuhnya Palaestina Prima ke tangan Persia disebut sebagai peristiwa kontemporer dalam surah ketiga puluh Al-Qur’an, Surat Ar-Rum, yang meramalkan kekalahan Persia oleh Bizantium dalam beberapa tahun ke depan. Ramalan itu terbukti benar: pada 29 Maret 629, Kaisar Heraclius memasuki Yerusalem dengan penuh kemenangan membawa kembali relikui Salib Suci. Sebagai kota pesisir di provinsi yang sama, Gaza kemungkinan besar turut terdampak oleh pergolakan kekuasaan ini, meski catatan spesifik mengenai nasib Gaza pada periode 614–629 tidak ditemukan dalam sumber yang tersedia — sehingga klaim detail mengenai kondisi Gaza pada masa itu tidak dapat dipastikan. FandomMy Jewish Learning
Dari Makam Leluhur ke Reruntuhan Masa Kini
Ketika pasukan Muslim di bawah Amr ibn al-As akhirnya menaklukkan Gaza pada 637 M — lima tahun setelah Nabi wafat — kota itu sudah lama dikenal di kalangan Quraysh, bukan sebagai wilayah asing, melainkan sebagai titik akhir jalur dagang leluhur mereka dan tempat persemayaman salah satu tokoh pendiri klan Hashim. Ikatan itu kemudian dilembagakan lewat pembangunan Masjid Sayyid Hashim di atas makam yang diyakini sebagai makam Hashim ibn Abd Manaf.
Masjid tersebut mengalami kerusakan berat dalam serangan Israel ke Gaza sejak Oktober 2023, sebagaimana telah dicatat dalam kolom-kolom sebelumnya mengenai era Ottoman dan era modern Gaza. Ikatan sejarah yang terbangun selama lebih dari 1.500 tahun antara Gaza dan lingkaran keluarga Nabi Muhammad kini menghadapi ancaman fisik yang nyata terhadap jejak arkeologis dan arsitekturalnya.


