TEHERAN – Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala tim negosiasi Teheran dengan Amerika Serikat, Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan, Iran tidak akan melanjutkan perundingan baru dengan Washington hingga nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang telah disepakati benar-benar dilaksanakan.
Ia juga memperingatkan, Iran siap berperang apabila Amerika Serikat mengingkari isi perjanjian tersebut.
Dalam pernyataannya pada Rabu (1/7), Ghalibaf menjelaskan, nota kesepahaman itu berfokus pada dua poin utama, yakni deklarasi gencatan senjata dan pencabutan blokade.
Ia menambahkan, Iran masih melanjutkan komunikasi melalui mediasi Pakistan dan Qatar hingga Pasal 13 dalam nota kesepahaman mulai diberlakukan. Menurutnya, Teheran tetap berkomitmen menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
“Iran tidak akan memasuki negosiasi baru dengan Washington sampai seluruh ketentuan dalam nota kesepahaman itu dilaksanakan,” kata Ghalibaf.
“Jika Amerika Serikat menolak menjalankan apa yang telah disepakati, kami juga siap menghadapi perang. Iran tidak lagi mengadakan perundingan baru. Negosiasi berakhir ketika nota kesepahaman ditandatangani, dan kontak yang berlangsung belakangan ini hanya berkaitan dengan implementasi lima ketentuan utama dalam perjanjian tersebut,” lanjutnya.
Ghalibaf juga mengungkapkan, sejak berakhirnya blokade laut, Iran telah mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak.
Namun, ia menambahkan berdasarkan nota kesepahaman tersebut, jaminan kebebasan pelayaran melalui Selat Hormuz hanya berlaku selama 60 hari.
Pernyataan Ghalibaf muncul di tengah berlanjutnya pembahasan implementasi kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat, dengan Pakistan dan Qatar tetap berperan sebagai mediator dalam komunikasi kedua negara.
