HomeBeritaSerangan Udara Israel Tewaskan Ibu dan Empat Anak, Tangis Warga Lebanon Pecah

Serangan Udara Israel Tewaskan Ibu dan Empat Anak, Tangis Warga Lebanon Pecah

ANSAR – Serangan udara Israel di kota Ansar, Lebanon Selatan pada Jumat (14/8) bukan sekadar angka baru dalam daftar jumlah korban. Serangan tersebut merenggut nyawa seorang ibu dan empat anak-anaknya, meninggalkan keluarga yang berduka serta memicu rasa sedih dan murka di kalangan warga Lebanon. Mereka ramai mengunggah foto-foto korban, ucapan belasungkawa, dan kecaman di platform media sosial.

Zainab Mahdi Nasser El-Din—seorang wanita asal kota Sajad—bersama empat anaknya gugur akibat serangan udara Israel yang mengincar rumah keluarga mereka pagi hari ini di kota Ansar, Distrik Nabatieh.

Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), serangan tersebut mengakibatkan 7 orang tewas dan 3 lainnya luka-luka. Sementara itu, serangan udara Israel terus berlanjut ke beberapa kota dan wilayah di Lebanon Selatan, di tengah kekhawatiran akan meluasnya eskalasi dan jatuhnya lebih banyak korban.

Kisah keluarga ini dengan cepat menjadi pusat perhatian dan perbincangan luas di media sosial. Warga Lebanon mengungkapkan rasa duka atas tewasnya sang ibu dan anak-anaknya, seraya menegaskan bahwa para korban bukan sekadar angka dalam laporan serangan, melainkan individu yang masing-masing memiliki impian, kenangan, dan kehidupan yang terenggut dalam sekejap.

“Ke mana kalian pergi?”.. Pesan Seorang Kakak yang Merangkum Pedihnya Kehilangan

Di tengah rasa duka yang mendalam, penulis asal Lebanon, Muhammad Nasser El-Din, mengunggah pesan menyentuh tentang adiknya, Zainab, dan keempat keponakannya. Ia mengenang detail kehidupan sehari-hari dan memori keluarga mereka, sebelum menutupnya dengan pertanyaan yang memilukan: “Ke mana kalian pergi?”.

Dalam pesannya, Nasser El-Din menulis:

“Israel telah membunuh adikku Zainab dan empat anaknya di Ansar. Ke mana engkau pergi, adikku? Ke mana engkau pergi, Hassan? Aku membesarkanmu dengan tanganku sendiri, bukankah engkau ingin masuk Universitas Saint Joseph untuk menjadi insinyur? Ke mana engkau pergi, Zahra yang penuh kasih? Ke mana engkau pergi, Abbas? Engkau yang pernah berkata padaku saat perang bahwa kita akan bermain dengan bantal-bantal kursi? Ke mana engkau pergi, Hussein? Yang biasa kutarik rambutmu lalu engkau mengedipkan matamu padaku? Ke mana kalian semua pergi?”

Ia menambahkan sambil mengenang kenangan bersama adiknya:

“Ke mana engkau pergi, adikku? Aku yang biasa menyanyi untukmu ‘Bas Bas Hali’, kita naik sepeda dan tersesat di tengah kabut.. Ke mana?”

Warga Lebanon menyebarkan pesan tersebut secara luas karena dinilai mencerminkan sisi kemanusiaan dari tragedi ini, jauh dari bahasa angka dan pernyataan resmi. Pesan itu menghidupkan kembali kenangan tentang anak-anak dan seorang ibu yang kisahnya berubah dalam hitungan jam menjadi berita tentang korban serangan udara.

Kemarahan atas Pembenaran Penargetan Keluarga

Reaksi masyarakat tidak berhenti pada rasa duka. Apa yang disebut oleh para aktivis sebagai pembenaran Israel atas penargetan keluarga tersebut memicu gelombang kemarahan tambahan.

Para aktivis membagikan pernyataan yang diklaim berasal dari juru bicara militer Israel, Ella Waweya, yang dilaporkan menggambarkan keluarga atau rumah yang ditargetkan tersebut sebagai bagian dari “infrastruktur militer Hizbullah” dalam upaya membenarkan serangan itu.

Para aktivis menilai bahwa pembenaran semacam ini tidak menjawab pertanyaan mengenai tewasnya seorang ibu dan anak-anaknya. Mereka mengunggah foto-foto keluarga tersebut disertai kalimat-kalimat yang mengutuk penargetan warga sipil.

Salah satu aktivis menulis: “Semua orang yang ada di foto ini dibunuh oleh musuh Israel tadi pagi, setelah rumah mereka di kota Ansar, Lebanon Selatan, dibom.”

Aktivis lain menulis: “Israel membunuh Zainab dan empat anaknya pagi ini, mengubur satu keluarga penuh di bawah reruntuhan rumah mereka di Ansar, Lebanon Selatan.”

Ungkapan-ungkapan yang merangkum rasa marah dan duka juga menyebar luas, di antaranya: “Mereka bukan sekadar angka. Atas dosa apa mereka dibunuh?”

Gelombang reaksi ini meluas hingga ke foto dan video yang mendokumentasikan dampak serangan terhadap rumah-rumah dan pemukiman warga di wilayah Selatan. Hal ini diiringi kritik tajam terhadap penargetan kawasan padat penduduk, serta peringatan bahwa pengeboman yang terus berlanjut dapat menyebabkan lebih banyak korban jiwa dan kehancuran.

Peristiwa ini terjadi di tengah pelanggaran Israel yang terus berlanjut, meskipun ada penandatanganan “Kerangka Kesepakatan” di Washington pada 26 Juni lalu yang mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Lebanon, sementara Israel mensyaratkan pelucutan senjata Hizbullah untuk melakukan penarikan tersebut.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini