HomeBeritaUtusan PBB Peringatkan Kegagalan Gencatan Senjata Gaza Bisa Jadi "Titik Tanpa Kembali"

Utusan PBB Peringatkan Kegagalan Gencatan Senjata Gaza Bisa Jadi “Titik Tanpa Kembali”

NEW YORK — Perwakilan tinggi Dewan Perdamaian untuk Gaza, Nickolay Mladenov, memperingatkan Dewan Keamanan PBB bahwa kegagalan proses gencatan senjata Israel-Hamas akan menjadi “titik tanpa kembali” bagi upaya perdamaian di Gaza. Peringatan itu disampaikan Mladenov dalam pernyataan kepada Dewan Keamanan PBB pada Rabu (26/8), menyusul penolakan terbuka Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap rencana perdamaian 15 poin yang diajukan Presiden AS Donald Trump.

Menurut Mladenov, jika pertempuran kembali pecah di Gaza, tidak akan ada lagi peta jalan untuk kembali, tidak akan ada administrasi yang bisa diterapkan, dan tidak akan ada apa pun yang tersisa di lapangan untuk dibangun kembali. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan sekadar kemunduran, melainkan titik tanpa jalan kembali bagi semua pihak.

Korban Terus Bertambah Meski Gencatan Senjata Berlaku

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat setidaknya 1.288 warga Palestina tewas dan 4.290 lainnya luka-luka sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada Oktober 2025. Data itu menambah total korban tewas Palestina sejak serangan kelompok Hamas dan faksi Palestina lain di Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 240 orang, mencapai 73.422 jiwa.

Rangkaian serangan Israel yang terus berlangsung meski gencatan senjata resmi berlaku menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir. Serangan udara Israel di Deir el-Balah, Gaza tengah, misalnya, turut merusak gudang bantuan pangan yang berada di dekat rumah yang menjadi sasaran serangan.

Perselisihan soal Pelucutan Senjata Hamas

Mladenov menjelaskan bahwa untuk pertama kalinya, Hamas dan faksi-faksi bersenjata di Gaza sepakat menyerahkan senjata mereka serta mengalihkan seluruh kewenangan pemerintahan sipil dan keamanan kepada pemerintahan transisi yang diakui PBB. Kesepakatan itu dicapai Hamas pada 30 Juli lalu sebagai bagian dari peta jalan Dewan Perdamaian.

Di bawah kerangka tersebut, proses pelucutan senjata akan diawasi oleh International Stabilization Force, unit baru yang dipimpin Mayor Jenderal AS Jasper Jeffers, yang akan dikerahkan ke Gaza bila situasi mereda. Namun Netanyahu menyatakan penolakannya terhadap kerangka ini dan menegaskan Israel tidak akan menarik pasukannya sampai Hamas benar-benar melucuti senjata secara penuh.

Mladenov turut mengingatkan bahwa risiko juga datang dari sisi lain. Ia menyebut Hamas telah berkomitmen menghentikan seluruh aktivitas militer, namun komitmen tersebut belum sepenuhnya dipenuhi, dan setiap senjata yang masih dibawa, terowongan yang masih dikerjakan, serta konvoi yang masih dihalangi, disebutnya memundurkan proses perdamaian.

Sementara itu, Duta Besar Palestina untuk PBB Riyad Mansour menyampaikan kepada Dewan Keamanan bahwa aneksasi Israel atas tanah Palestina turut mengikis prospek perdamaian di kawasan, merujuk pada penerbitan tender proyek permukiman E1 di Tepi Barat yang diduduki.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini