GAZA CITY — Yahya Sinwar tewas dalam baku tembak dengan pasukan Israel di kawasan Tel al-Sultan, Rafah, pada 16 Oktober 2024, tepat satu tahun setelah serangan 7 Oktober 2023 yang ia rancang bersama komandan sayap militer Hamas, Mohammed Deif.Sinwar adalah pemimpin de facto Hamas dari 2017 hingga 2024 dan pemimpin de jure sebagai kepala biro politik dari Agustus hingga Oktober 2024. Riwayat hidupnya mencakup lebih dari dua dekade penjara Israel, pembentukan aparat keamanan internal Hamas, dan posisi puncak organisasi di tengah perang paling mematikan dalam sejarah Jalur Gaza.
Dari Kamp Pengungsi ke Universitas Islam Gaza
Sinwar lahir di kamp pengungsi Khan Yunis, Gaza yang saat itu diduduki Mesir, pada 1962, dari keluarga yang terusir atau melarikan diri dari Majdal Asqalan (kini Ashkelon) selama Perang Palestina 1948. Sumber-sumber berbeda soal tanggal pastinya — Britannica dan Wikipedia mencatat 29 Oktober 1962, sementara sejumlah media menyebut 19 atau 26 Oktober tahun yang sama. Ia menamatkan pendidikan di Universitas Islam Gaza dengan gelar sarjana studi bahasa Arab.
Selama kuliah, Sinwar aktif di gerakan mahasiswa “Blok Islam”, sayap kemahasiswaan Ikhwanul Muslimin, dan pertama kali ditangkap otoritas Israel pada 1982 karena aktivisme antipendudukan.
Pendirian Al-Majd dan Vonis 1988
Pada 1985, Sinwar mendirikan aparat keamanan bagi Ikhwanul Muslimin yang dikenal sebagai Al-Majd, difokuskan melawan pendudukan Israel di Gaza sekaligus memerangi kolaborator Palestina. Ketika Hamas didirikan Syekh Ahmed Yassin pada 1987, Sinwar meyakinkan bahwa organisasi perlawanan itu perlu dibersihkan dari informan Israel, dan Al-Majd diintegrasikan sebagai sayap keamanan di bawah kepemimpinannya.
Menurut transkrip interogasi dengan aparat keamanan yang dipublikasikan media Israel, Sinwar mengaku pernah mencekik seorang terduga kolaborator dengan kafiyeh di pemakaman Khan Yunis. Ia ditangkap kembali pada 20 Januari 1988. Israel menjatuhkan hukuman empat kali seumur hidup ditambah 30 tahun penjara atas tuduhan mendirikan aparat keamanan Al-Majd dan berpartisipasi dalam pembentukan sayap militer pertama Hamas. Ia dituduh terlibat dalam penangkapan dan kematian dua tentara Israel serta empat terduga mata-mata Palestina.
Dua Puluh Tiga Tahun di Balik Jeruji
Sinwar menghabiskan 23 tahun di penjara Israel sebelum dibebaskan lewat kesepakatan pertukaran tahanan 2011 yang dikenal sebagai Kesepakatan Shalit. Selama masa tahanan, ia belajar bahasa Ibrani hingga fasih dan disebut memiliki pemahaman mendalam tentang budaya serta masyarakat Israel. Ia juga menulis novel berjudul “The Thorn and the Carnation” (Duri dan Anyelir), terinspirasi pengalaman hidupnya sendiri tumbuh besar di Jalur Gaza.
Mantan interogator Shin Bet, Michael Kobi, yang memeriksanya selama sekitar 180 jam, menggambarkan Sinwar sebagai sosok berwibawa dengan kemampuan memimpin yang kuat di dalam penjara — penilaian yang datang dari pihak yang menahannya, bukan dari kalangan pendukungnya.
Kesepakatan Shalit dan Kebangkitan Politik
Pada 2011, Israel menyetujui kesepakatan yang membebaskan 1.027 tahanan Palestina dengan imbalan pembebasan Gilad Shalit, tentara Israel yang diculik Hamas pada 2006. Sinwar adalah salah satu tahanan paling terkemuka yang dibebaskan dalam kesepakatan itu. Setelah bebas, ia dengan cepat naik pangkat di internal Hamas; pada 2012 terpilih menjadi bagian biro politik dan bertugas berkoordinasi dengan Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas.
Sinwar memainkan peran politik dan militer penting selama perang tujuh minggu Israel-Gaza pada 2014. Setahun kemudian, Amerika Serikat memasukkannya dalam daftar “teroris global yang ditunjuk secara khusus.” Pada 13 Februari 2017 ia resmi menjadi pemimpin Hamas di Jalur Gaza, menggantikan Ismail Haniyeh.
Serangan 7 Oktober dan Kepala Biro Politik
Pada 2017, Sinwar bekerja sama dengan Haniyeh menyelaraskan Hamas dengan Iran dan sekutunya, termasuk Hizbullah, sembari membangun kekuatan militer Hamas. Ia dianggap salah satu dalang serangan 7 Oktober 2023 ke Israel — hari paling mematikan bagi Israel sejak kemerdekaannya — yang memicu perang Israel-Hamas. Setelah serangan itu, juru bicara militer Israel menyebutnya “dead man walking”.
Sinwar mengambil alih kepemimpinan tertinggi Hamas setelah Ismail Haniyeh terbunuh di Teheran pada 31 Juli 2024. Ia menjabat kepala biro politik Hamas sejak 6 Agustus 2024. Masa jabatannya sebagai pemimpin tertinggi organisasi berlangsung kurang dari tiga bulan.
Kematian di Rafah
Menurut kronologi yang dilaporkan BBC, satu unit Brigade Bislamach ke-828 Israel berpatroli di Tel al-Sultan, Rafah, pada 16 Oktober 2024. Tiga militan yang teridentifikasi dilawan dan tewas dalam baku tembak yang pada saat itu tidak tampak istimewa; pasukan baru kembali memeriksa lokasi keesokan paginya. Saat jenazah diperiksa, salah satunya sangat mirip dengan pemimpin Hamas tersebut. Karena kekhawatiran jebakan, sebagian jari jenazah diambil dan dikirim ke Israel untuk pengujian. Israel kemudian melakukan tes biometrik, sidik jari, hingga DNA — dimungkinkan karena Sinwar pernah dipenjara sekitar 20 tahun sehingga datanya tersedia.
Militer Israel mengonfirmasi kematiannya pada 17 Oktober 2024 setelah tes DNA dan catatan medis lain. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu turut mengonfirmasi, sembari menyatakan tugas Israel di Gaza belum selesai. Reaksi terhadap kematiannya terbelah tajam: di kalangan pendukungnya di Gaza dan diaspora Palestina, Sinwar dikenang sebagai simbol perlawanan; di Israel dan sejumlah pemerintah Barat, kematiannya disambut sebagai pencapaian militer terhadap sosok yang mereka anggap bertanggung jawab atas serangan paling mematikan dalam sejarah negara itu.
Bayang-Bayang di Gaza Pascagencatan Senjata
Perang yang dipicu serangan 7 Oktober berlangsung dua tahun lebih setelah kematian Sinwar, sebelum gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025. Kota kelahirannya, Khan Yunis, dan wilayah tempat ia tewas, Rafah, termasuk di antara area yang paling luas kehancurannya selama perang. Sosok Sinwar tetap menjadi salah satu titik paling diperdebatkan dalam narasi terbaru sejarah Gaza — antara catatan pengadilan Israel yang menghukumnya sebagai pembunuh, dan status martir yang disematkan pendukungnya, dua kisah yang berjalan paralel tanpa titik temu.


